RELUNG.ID – Petani karet di Sumatra Selatan (Sumsel) masih menghadapi tantangan besar meski harga komoditas tersebut cenderung stabil dalam sepekan terakhir. Harga karet bertahan di kisaran 1,7 dolar AS per kilogram (kg), namun dinilai belum sepenuhnya memberikan keuntungan yang layak bagi petani.
Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex K. Eddy, mengatakan harga ideal sebaiknya bisa menembus 1,8 dolar AS per kg. “Kalau harga bisa naik sedikit lagi, tentu petani akan lebih sejahtera,” ujarnya, Selasa (2/9/2025).
Meski demikian, persoalan utama justru terletak pada produktivitas tanaman yang masih rendah. Padahal, klon karet unggul seharusnya mampu menghasilkan 1,8 hingga 2 ton per hektare per tahun. “Kondisi di lapangan jauh dari angka tersebut. Kemungkinan karena usia tanaman yang sudah tua atau serangan penyakit daun,” jelas Alex.
Berdasarkan catatan Gapkindo Sumsel, produksi karet sepanjang Januari hingga Juli 2025 tercatat 476.633 ton. Angka ini tidak jauh berbeda dengan capaian tahun-tahun sebelumnya, yakni 469.771 ton pada 2023 dan 455.136 ton pada 2024. Penurunan produktivitas juga dipengaruhi faktor cuaca, terutama saat musim kering dan periode gugur daun yang membuat pasokan bahan olahan karet rakyat (bokar) ke pabrik berkurang.
Di sisi lain, ekspor karet Sumsel masih menunjukkan pergerakan positif. Pada Juli 2025, volume ekspor tercatat 63.321 ton, meningkat dari bulan sebelumnya yang sebanyak 55.978 ton. Secara kumulatif, Januari–Juli 2025, ekspor karet Sumsel mencapai 451.282 ton, naik dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar 413.729 ton.
“Berdasarkan data BPS, sampai Juni 2025, ekspor karet dari Sumsel merupakan yang terbesar di Indonesia, dengan volume 325.195 ton dan nilai 642,9 juta dolar AS,” tambah Alex.[THQ]

