RELUNG.ID – Harga karet di Sumatera Selatan (Sumsel) kembali menunjukkan tren positif. Dalam lima hari bursa terakhir periode 4–8 Mei 2026, harga karet KKK 100 persen naik konsisten hingga menembus Rp38 ribu per kilogram. Kondisi ini menjadi angin segar bagi petani karet di tengah ketatnya pasokan global dan meningkatnya kebutuhan industri otomotif dunia.
Berdasarkan data Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO) Sumsel, harga karet mengalami kenaikan dari Rp37.141 per kilogram menjadi Rp38.454 per kilogram atau naik Rp1.313 per kilogram hanya dalam sepekan.
Sekretaris Jenderal DPW APKARINDO Sumsel, Rudi Arpian mengatakan, penguatan harga karet saat ini dipicu tingginya permintaan industri ban global, terutama dari negara dengan sektor otomotif besar seperti China dan India.
“Permintaan global masih lebih tinggi dibanding produksi. Industri otomotif terutama di China dan India mulai pulih sehingga kebutuhan bahan baku ban meningkat,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Kebangkitan industri otomotif global dinilai menjadi faktor utama yang mengangkat harga karet alam sepanjang awal Mei 2026. Seiring meningkatnya produksi kendaraan, kebutuhan bahan baku ban ikut melonjak.
Tak hanya itu, tingginya harga minyak mentah dunia turut memperkuat posisi karet alam di pasar internasional. Harga minyak yang tinggi membuat biaya produksi karet sintetis meningkat sehingga industri mulai beralih menggunakan karet alam.
Menurut Rudi, harga karet sintetis bahkan sempat naik hingga 13.783 yuan per ton pada Maret 2026. Kondisi tersebut membuat karet alam semakin kompetitif.
“Harga minyak mentah yang masih tinggi membuat harga karet sintetis ikut naik. Ini otomatis mendorong permintaan karet alam,” katanya.
Di sisi lain, implementasi regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) juga memberi dampak signifikan terhadap perdagangan karet dunia. Sejumlah industri mulai melakukan pembelian stok lebih awal untuk mengantisipasi potensi pembatasan pasokan.
Situasi tersebut diperparah dengan terganggunya produksi di negara produsen utama seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia akibat curah hujan tinggi. Aktivitas penyadapan getah di sejumlah wilayah belum berjalan optimal.
“Pasokan saat ini masih cukup ketat. Itu membuat buyer berani mengambil posisi dengan harga lebih tinggi,” jelasnya.
APKARINDO Sumsel menilai tren kenaikan harga masih berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Selama permintaan industri otomotif tetap kuat dan produksi global belum pulih sepenuhnya, harga karet diperkirakan tetap bertahan di level tinggi.[THQ]

