RELUNG.ID — Pergerakan harga karet global kembali mengalami tekanan pada awal pekan ini. Di tengah tren yang belum sepenuhnya stabil, pelaku sektor hulu diminta tidak hanya terpaku pada fluktuasi harga, tetapi mulai memperkuat strategi dari sisi kualitas produksi.
Berdasarkan data perdagangan di SGX Sicom, harga karet tercatat turun menjadi Rp34.411 per kilogram atau setara 201,2 sen dolar AS per kilogram. Angka ini terkoreksi Rp281 dibandingkan posisi akhir pekan lalu.
Sekretaris Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumatera Selatan, Rudi Arpian, menilai penurunan tersebut sebagai bagian dari mekanisme pasar yang tengah mencari arah baru setelah sempat menunjukkan penguatan.
“Pasar sedang menguji tren. Biasanya setelah periode stabil, akan ada koreksi untuk melihat apakah penguatan bisa berlanjut atau justru tertahan,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Namun di balik tekanan harga global, Rudi menekankan bahwa peluang menjaga pendapatan petani tetap terbuka lebar. Kuncinya terletak pada kualitas bahan olahan karet (bokar), khususnya kadar karet kering (KKK) yang menjadi indikator utama dalam penentuan harga di tingkat petani.
Ia mengingatkan agar petani tidak mengabaikan proses produksi. Penggunaan bahan penggumpal lateks yang tepat, kebersihan bokar, serta menghindari perendaman menjadi faktor penting agar kualitas tetap terjaga.
“Kalau kualitas bagus, harga tetap bisa kompetitif meskipun pasar sedang turun,” jelasnya.[THQ]

