RELUNG.ID — Usai perayaan tahun baru, pergerakan harga bahan pokok di Kota Palembang menunjukkan pola yang tidak biasa. Jika komoditas cabai dan bawang mulai turun seiring menurunnya permintaan, harga sumber protein justru masih bertahan tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda melandai.
Dinas Perdagangan Kota Palembang menilai kondisi ini dipicu oleh kombinasi faktor kebijakan nasional dan hambatan alam. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berjalan serentak di berbagai daerah disebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya permintaan ayam ras dan telur dalam jumlah besar.
Kepala Bidang Stabilitas dan Sarana Distribusi Dinas Perdagangan Palembang, Elsa Noviani, menyebut lonjakan permintaan membuat harga ayam dan telur sulit kembali ke harga normal.
“Permintaan protein meningkat signifikan karena kebutuhan program MBG. Di sisi lain, biaya produksi peternak juga naik akibat mahalnya pakan serta cuaca yang kurang mendukung,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).
Tak hanya unggas, harga ikan di pasar tradisional Palembang juga ikut terdongkrak. Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah perairan dan jalur distribusi dinilai mengganggu pasokan, khususnya ikan laut yang selama ini dipasok dari luar Sumatera Selatan.
Kendala distribusi diperparah dengan banjir di beberapa daerah serta antrean panjang bahan bakar bagi kendaraan logistik, sehingga suplai ikan ke pasar menjadi terbatas. Kondisi tersebut membuat harga ikan, terutama ikan kembung, menjadi salah satu komoditas yang kini mendapat perhatian nasional.
Untuk menekan tekanan inflasi, Pemerintah Kota Palembang bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan Bank Indonesia menyiapkan langkah taktis, salah satunya dengan pengaturan pola menu di dapur MBG agar kebutuhan bahan pangan tidak menumpuk pada satu komoditas dalam waktu bersamaan.
Selain itu, Pemkot Palembang juga akan menggencarkan pasar murah secara rutin di seluruh kecamatan menjelang Ramadan hingga Idulfitri. Berbeda dari tahun sebelumnya, kegiatan tersebut akan difokuskan ke kawasan permukiman padat penduduk agar lebih mudah dijangkau masyarakat.
Warga juga akan mendapat dukungan berupa voucher subsidi belanja kebutuhan pokok bekerja sama dengan perbankan daerah, sehingga selisih harga dapat ditekan dan daya beli tetap terjaga.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah mengimbau masyarakat untuk lebih adaptif dan bijak dalam berbelanja, termasuk memilih alternatif sumber protein lain saat harga ayam dan ikan melonjak.
“Situasi ini perlu disikapi bersama. Dengan pola konsumsi yang fleksibel dan belanja sesuai kebutuhan, tekanan ekonomi rumah tangga bisa ditekan,” pungkas Elsa.[THQ]

