RELUNG.ID — Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru menegaskan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumsel mayoritas dipicu oleh aktivitas manusia. Ia menyebut lebih dari 90 persen kasus karhutla terjadi akibat kebiasaan membuka lahan dengan cara dibakar.
Pernyataan itu disampaikan Herman Deru saat menghadiri apel kesiapsiagaan penanggulangan bencana karhutla nasional di Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti pentingnya membangun kesadaran masyarakat sebagai kunci utama mencegah bencana tahunan itu kembali meluas.
“Yang paling penting sebenarnya adalah kesadaran masyarakat. Berdasarkan penelitian BNPB, lebih dari 90 persen penyebab karhutla berasal dari ulah manusia,” kata Herman Deru, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, berbagai upaya pemadaman dan patroli yang dilakukan pemerintah tidak akan maksimal tanpa dukungan masyarakat di tingkat bawah. Karena itu, ia meminta warga, khususnya petani dan pelaku perkebunan, meninggalkan cara lama membuka lahan dengan membakar.
Bahkan ia mengakui, dalam beberapa tahun terakhir mulai terlihat perubahan perilaku masyarakat. Ia menilai semakin banyak warga yang memahami dampak buruk pembakaran lahan, baik terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat.
Meski demikian, ia mengingatkan ancaman karhutla masih sangat besar, terutama saat memasuki musim kemarau. Aktivitas pembersihan lahan sebelum dan sesudah panen disebut menjadi periode paling rawan munculnya titik api.
“Himbauan kami jelas, jangan membuka lahan dengan membakar. Baik sebelum panen maupun setelah panen, masyarakat harus lebih waspada,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Herman Deru juga mengungkapkan tren karhutla di Sumsel mengalami penurunan signifikan dari tahun ke tahun. Ia menilai capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas sektor, mulai dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, hingga pemerintah daerah.
Bahkan, Sumatera Selatan tahun ini dipercaya menjadi tuan rumah apel kesiapsiagaan karhutla nasional yang diikuti perwakilan dari 19 provinsi di Indonesia.
“Grafik karhutla kita terus menurun. Ini bukan kerja satu pihak saja, tapi hasil kerja keras semua unsur di lapangan,” ujarnya.
Dirinya berharap kesadaran kolektif masyarakat dapat menjadi benteng utama dalam mencegah kabut asap dan kerusakan lingkungan kembali terjadi di Sumatera Selatan pada 2026.[THQ]

