RELUNG.ID – Penurunan titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan belum menjadi tanda karhutla berakhir. Setelah sempat berada di kisaran ratusan titik, jumlah hotspot kembali melonjak hingga 1.737 titik hanya dalam sehari.
Berdasarkan data Sipongi pada 14 September 2026, sebanyak 1.737 hotspot terpantau di Sumsel. Sebanyak 937 titik berada di lahan mineral dan 800 titik lainnya terdeteksi di lahan gambut.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan lonjakan tersebut terjadi setelah dalam beberapa hari sebelumnya jumlah hotspot masih berada di kisaran ratusan.
“Terjadi peningkatan hotspot yang cukup signifikan, setelah beberapa hari berada di kisaran ratusan titik. Kemarin (14/9) terpantau melonjak menjadi 1.737 titik. Dengan 937 titik terpantau di lahan mineral dan 800 titik di lahan gambut,” ujar Sudirman, Selasa (15/9/2026).
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 570 titik. Rinciannya, 262 titik berada di lahan mineral dan 308 titik di lahan gambut.
Kemudian Muara Enim mencatat 342 titik, terdiri dari 115 titik di mineral dan 227 titik di gambut. Banyuasin menyusul dengan 261 titik, yakni 65 titik di mineral dan 196 titik di gambut.
Sementara itu, OKU Timur mencatat 115 hotspot dan Musi Banyuasin (Muba) sebanyak 104 titik, dengan 79 titik berada di lahan mineral dan 25 titik di lahan gambut.
“Hotspot kemarin terdeteksi di 15 kabupaten/kota, hanya Palembang dan Lubuklinggau yang nihil,” katanya.
Lonjakan harian tersebut menjadi perhatian karena Sumsel masih berada dalam puncak musim kemarau. Bahkan, akumulasi hotspot sejak 1 hingga 14 September 2026 telah mencapai 14.125 titik.
Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dalam catatan rekapitulasi hotspot bulanan sejak 2015. Rekor sebelumnya terjadi pada Oktober 2015 dengan 11.584 titik.
“Tahun ini jumlah hotspot melonjak drastis karena puncak kemarau di El Nino yang panjang,” tukasnya.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan penurunan hotspot yang sempat terjadi tidak berarti ancaman karhutla telah berakhir. Menurutnya, cuaca kering masih berpotensi berlangsung beberapa bulan ke depan.
Kondisi El Nino diperkirakan masih dapat bertahan hingga akhir Oktober atau November sebelum hujan alami kembali turun. Karena itu, pencegahan harus berjalan beriringan dengan operasi pemadaman.
“Kita butuh kedisiplinan untuk tidak membuka lahan, membuka kebun dengan cara membakar. Ini kami sampaikan kepada para petani, kepada masyarakat biasa, maupun korporasi,” tegasnya saat berada di Palembang, Selasa (15/9/2026).
Raja Juli juga memberikan peringatan khusus kepada perusahaan yang masih menggunakan pembakaran sebagai metode land clearing. Menurutnya, cara tersebut mungkin dianggap murah, tetapi memiliki risiko besar ketika api tidak terkendali dan meluas hingga berdampak kepada masyarakat.
“Korporasi yang masih nakal, yang masih menggunakan cara-cara lama, yang dianggap murah untuk melakukan land clearing, tapi memiliki risiko besar terhadap kesehatan masyarakat,” katanya. (THQ)

