RELUNG.ID — Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) masih menjadi tantangan serius di tengah tingginya konsumsi energi nasional. Ketimpangan antara produksi dalam negeri dan kebutuhan harian membuat pemerintah harus terus mencari sumber pasokan baru dari luar negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa konsumsi BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara produksi minyak dalam negeri masih berada di kisaran 600 ribu hingga 610 ribu barel per hari.
“Kita masih harus mengimpor kurang lebih sekitar 1 juta barel per hari untuk menutup kebutuhan tersebut,” ujarnya di Istana Negara, Kamis (16/4).
Kondisi ini mendorong pemerintah untuk memperluas kerja sama energi dengan berbagai negara. Salah satu langkah yang tengah dijajaki adalah penguatan kemitraan dengan Rusia, khususnya dalam penyediaan minyak mentah dan pembangunan infrastruktur energi.
Menurut Bahlil, komunikasi dengan pihak Rusia menunjukkan perkembangan positif. Selain potensi pasokan minyak mentah, kerja sama juga mencakup dukungan pembangunan fasilitas strategis guna memperkuat cadangan energi nasional.
Langkah diversifikasi juga dilakukan pada sektor liquefied petroleum gas (LPG), di mana Indonesia masih mengimpor sekitar 7 juta ton per tahun. Pemerintah kini membuka peluang kerja sama baru untuk menekan ketergantungan tersebut, meski prosesnya masih dalam tahap negosiasi lanjutan.
Di tengah dinamika geopolitik global, pemerintah menegaskan akan bersikap fleksibel dalam menentukan sumber pasokan energi. Pertimbangan utama tetap pada aspek keuntungan dan ketahanan energi nasional.
“Kebutuhan minyak mentah kita sekitar 300 juta barel per tahun. Jadi kita akan ambil dari mana saja yang paling menguntungkan bagi negara,” tegasnya.[THQ]

