RELUNG.ID – Industri halal tidak lagi sekadar identik dengan kebutuhan umat Muslim, tetapi telah berkembang menjadi tren global yang didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas, keamanan, dan transparansi produk. Kondisi ini menjadikan sektor halal sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi masa depan.
Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan, mengungkapkan kontribusi ekonomi halal terhadap perekonomian nasional terus menunjukkan tren positif. Bahkan pada semester pertama 2026, nilai ekonomi halal Indonesia tercatat mencapai 26,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional atau hampir menyentuh Rp5.000 triliun.
“Capaian ini menunjukkan bahwa ekonomi halal telah menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Haikal di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurut Haikal, perkembangan industri halal didorong oleh perubahan perilaku konsumen yang semakin memperhatikan aspek kebersihan, keamanan, transparansi, dan asal-usul produk yang mereka konsumsi. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi utama yang membangun kepercayaan masyarakat terhadap produk halal.
Ia menegaskan bahwa konsep halal memiliki daya tahan yang kuat terhadap perubahan zaman maupun dinamika ekonomi global.
“Halal tidak hanya soal agama, tetapi juga tentang kualitas, kebersihan, dan kepercayaan. Karena itu, konsep halal akan selalu relevan,” katanya.
Untuk memperkuat ekosistem halal nasional, BPJPH saat ini fokus menjalankan empat strategi utama, yakni penguatan regulasi, kolaborasi antar pemangku kepentingan, sosialisasi kepada masyarakat, serta digitalisasi layanan halal.
Haikal menilai sinergi lintas sektor menjadi faktor penting agar pengembangan industri halal dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Di tingkat internasional, posisi Indonesia dalam industri halal juga semakin diperhitungkan. Berbagai negara mulai menempatkan Indonesia sebagai salah satu rujukan dalam pengembangan standar halal global.
Menurut Haikal, kepercayaan internasional tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat perannya sebagai pusat industri halal dunia sekaligus meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam memperluas sosialisasi dan mempercepat transformasi digital di sektor jaminan produk halal.
Haikal optimistis, dengan dukungan regulasi yang kuat dan kolaborasi berbagai pihak, industri halal Indonesia akan terus tumbuh dan memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap perekonomian nasional.
Ia bahkan menilai halal kini telah bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat dunia yang mengutamakan kualitas, keamanan, dan keberlanjutan.
“Halal saat ini bukan hanya diterima, tetapi sudah menjadi bagian dari lifestyle global,” tegasnya.[THQ]

