RELUNG.ID – Puber kedua pada pria biasanya terjadi pada umur 40 tahun. Puber kedua biasanya paling banyak dialami oleh pria dibandingkan wanita.
Jika kalian para ibu-ibu mencurigai pasangan kalian mengalami puber kedua atau tidak. Nah kenali ciri-ciri pria mengalami puber kedua :
1- Sering Berkata Hidupnya Membosankan
Salah satu ciri-ciri pria ketika puber kedua yaitu sering berkata hidupnya membosankan. Sang suami yang sebelumnya terlihat selalu bersemangat dan ceria secara tiba-tiba berubah secara drastis. Selain itu, sang pria juga sering melamun.
Baca Juga: Kalian Jadi Korban! Ini 4 Langkah Atasi Body Shaming
Ketika hal tersebut melanda, cobalah ajak bicara dan dengarkan semua keluhannya. Biarkan ia mengatakan apa yang dirasakannya dan tawarkan bulan madu kedua, mungkin akan mengembalikan semangat hidupnya.
2- Berselingkuh
Pria memang selalu menginginkan perhatian lebih. Momen puber kedua pada pria seperti ini rentan terjadinya perselingkuhan. Cara mencegah hal itu adalah dengan memperlakukannya secara istimewa dan memberikan perhatian lebih. Laki-laki mungkin berselingkuh bukan karena wanita yang lebih cantik, tetapi karena perlakuan wanita baru ini lebih istimewa.
Baca Juga: Ini 7 Gangguan Psikologi Menyerang Anak-anak dan Remaja
3- Menjadi Lebih Genit
Pada puber kedua memang pria menjadi lebih genit. Hal tersebut terlihat ketika ia memakai minyak wangi secara berlebihan, sering membeli baju baru, dan selalu tampil rapi. Pria ingin selalu terlihat muda. Itu terjadi karena pria mulai tidak nyaman dengan kondisinya. Cara menanggapinya adalah mendorong kepercayaan dirinya dengan mengatakan jika kamu mencintainya apa adanya.
4- Jarang Berada di Rumah
Ciri lain ketika mengalami puber yang kedua pada laki-laki adalah jarang berada di rumah. Dia lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan berkumpul dengan teman-temannya dibandingkan dengan keluarga. Pria akan selalu beralasan agar dapat bertemu dengan teman-temannya.
Hal itu memang terlihat menyebalkan untuk wanita. Walau begitu, berikanlah pria waktu berkumpul dengan teman-temannya, selama itu masih bisa dikontrol. Ketika rasa bosannya telah mereda, pasti ia akan kembali ke aktivitas normal.

