RELUNG.ID – Usulan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 1445 H atau 2024 Masehi mengalami peningkatan.
Dimana biaya haji 2024 yang diusulkan yaitu sebesar Rp105 juta.
Hal ini diakui oleh Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief, Selasa (14/11).
Baca Juga: Ini 5 Zodiak Jago Ngatur Duit
Dia mengatakan ada sejumlah faktor yang menyebabkan meningkatnya usulan biaya haji tahun 2024 nanti. Pertama yaitu faktor kenaikan kurs baik dolar maupun riyal. Kedua yaitu, adanya penambahan layanan.
Dia menjelaskan, biaya Haji 2023, disepakati dengan asumsi kurs 1 USD sebesar Rp15.150 dan 1 SAR sebesar Rp4.040.
Sementara Usulan Biaya Haji 2024 disusun dengan asumsi kurs 1 USD sebesar Rp16.000 dan 1 SAR sebesar Rp4.266.
Baca Juga: Hati-hati! Ini 7 Ciri-ciri Keguguran Kehamilan Waspada
“Kalau kita cek nilai tukar kurs dolar terhadap rupiah hari ini sudah diangka Rp15.700. Nah, dalam usulan BPIH kita gunakan asumsi Rp16.000 karena kurs memang sifatnya sangat fluktuatif,” katanya.
Selisih kurs ini, nantinya berdampak pada kenaikan biaya layanan yang bisa diklasifikasikan dalam tiga jenis.
Pertama, layanan yang harganya tetap atau sama dengan tahun 2023. Kenaikan dalam usulan BPIH 2024 terjadi karena adanya selisih kurs.
Baca Juga: Ini 4 Tips Atasi Ibu Hamil Suka Lapar di Tengah Malam
“Misalnya, transportasi bus salawat. Kami mengusulkan biaya penyediaan transportasi bus salawat tahun ini sama dengan 2023, sebesar SAR146. Tapi asumsi nilai kursnya berbeda. Sehingga ada kenaikan dalam usulan,” jelasnya.
Kedua, layanan yang harganya memang naik dibanding tahun lalu. Kenaikan usulan terjadi karena kenaikan harga dan selisih kurs, misal, akomodasi di Madinah dan Makkah.
“Pada 2023, sewa hotel di Madinah rata-rata SAR1.373, tahun ini kita usulkan SAR1.454. Demikian juga di Makkah, ada kenaikan usulan dari tahun sebelumnya,” ujar Hilman.
Baca Juga: Mau Cari Jodoh! Ini 5 Zodiak Pas Dijadikan Pasangan
Ketiga, layanan yang harganya naik dan volumenya bertambah. Kenaikan usulan terjadi karena selisih harga, selisih volume, dan juga selisih kurs.
Contohnya, konsumsi di Makkah, tahun lalu disepakati dengan Komisi VIII DPR hanya 44 kali makan, meski pada akhirnya bisa disesuaikan menjadi 66 kali makan.
“Tahun ini kami usulkan layanan konsumsi di Makkah menjadi 84 kali makan, dengan rincian 3 kali makan selama 28 hari. Sehingga ada selisih volume. Harga konsumsi per satu kali makan pada tahun lalu dibanding tahun ini juga naik. Kenaikan bertambah seiring adanya perbedaan kurs,” terangnya.
Baca Juga: Ini 5 Zodiak Suka Gibah Temen Sendiri
Meski demikian, usulan BPIH 2024 ini masih akan dibahas bersama Panitia Kerja (Panja) yang beranggotakan pemerintah dan DPR.
Panja akan melakukan serangkaian rapat, termasuk rapat membahas asumsi kurs yang paling ideal. Panja juga akan melakukan pengecekan harga layanan, baik di dalam negeri maupun di Saudi.
Ada sejumlah komponen layanan dalam usulan BPIH 2024, yaitu biaya penerbangan, pelayanan akomodasi, pelayanan konsumsi, pelayanan transportasi, pelayanan di Arafah – Muzdalifah – Mina (Armuzna).
Baca Juga: Ini 4 Tips Agar Mobil Bekas Hemat BBM
Kemudian, pelindungan, pelayanan di embarkasi atau debarkasi, pelayanan keimigrasian, premi asuransi dan pelindungan lainnya, dokumen perjalanan, biaya hidup, pembinaan jemaah haji di Tanah Air dan di Arab Saudi.
Lalu pelayanan umum di dalam negeri dan di Arab Saudi, serta pengelolaan BPIH.
“Proses pembahasan di Panja BPIH ini diperkirakan akan berjalan sekitar satu atau dua bulan,” pungkasnya.

