RELUNG.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada periode Juli 2024, Provinsi Sumsel mengalami deflasi sebesar 0,29 persen secara Montuh To Month (mtm).
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan secara nasional yang hanya 0,18 persen.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala BPS Sumsel, Mohammad Wahyu Yulianto, Kamis (8/8).
Dia mengatakan, dari total 425 komoditas yang diamati, setidaknya ada 147 komoditas yang mengalami kenaikan harga, 183 komoditas relatif stabil dan 93 komoditas mengalami penurunan.
Dari data, setidaknya ada dua kelompok yang menjadi penyumbang deflasi tertinggi yaitu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kemudian kelompok perumahan air, listrik dan bahan bakar rumah tangga.
Untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang deflasi sebesar 0,52 persen. Sedangkan, untuk kelompok perumahan air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,01 persen.
Untuk kondisi di masing-masing Kabupaten Kota IHK di Sumsel, secara mtm seluruhnya kompak mengalami deflasi.
Mulai dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebesar 0,40 persen, Kabupaten Muara Enim 0,07 persen, dan Kota Palembang dan Lubuk Linggau yang deflasi 0,31 persen.
Adapun sejumlah peristiwa yang mempengaruhi kondisi deflasi di Sumsel periode Juli 2024 diantaranya kenaikan harga emas secara global, masuknya tahun ajaran baru, serta penurunan sejumlah komoditas pertanian hortikultura.
“Dengan upaya pengendalian inflasi pemerintah tentunya berdapak terhadap kestabilan beberapa komoditas,” pungkasnya. (CKM)

