RELUNG.ID – Kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tak hanya memperburuk kualitas udara, tetapi juga berdampak pada jarak pandang penerbangan.
Kondisi ini membuat empat penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang terpaksa ditunda atau mengalami delay pada proses pendaratan.
Airport Operation Center Head, Parolan Simanjuntak mengatakan, kondisi jarak pandang tersebut dipantau sejak sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB.
“Jarak pandangnya sekitar 700 meter. Itu berdampak pada empat penerbangan yang mengalami delay antara 10 sampai 20 menit,” ujar Parolan.
Berdasarkan data penerbangan terdampak yang diterima, tidak terdapat penerbangan keberangkatan yang mengalami gangguan. “Seluruh penerbangan yang terdampak merupakan penerbangan kedatangan.” Jelasnya Kamis (17/9/2026).
Sedikitnya empat penerbangan kedatangan mengalami keterlambatan akibat jarak pandang (visibility) yang berada di bawah batas minimum operasional penerbangan.
Penerbangan pertama yang mengalami keterlambatan yakni TR254 rute Singapura-Palembang. Pesawat tersebut dijadwalkan tiba (STA) pukul 06.20 WIB. Namun, estimasi waktu kedatangan (ETA) menjadi pukul 08.10 WIB dan pesawat akhirnya mendarat pada pukul 08.38 WIB.
Kemudian penerbangan IP300 rute Jakarta-Palembang yang dijadwalkan tiba pukul 08.00 WIB. Pesawat diperkirakan tiba pukul 07.55 WIB dan tercatat mendarat pada pukul 08.31 WIB.
Penerbangan IU933 rute Yogyakarta-Palembang juga mengalami keterlambatan. Pesawat yang dijadwalkan tiba pukul 08.05 WIB tersebut akhirnya mendarat pada pukul 08.35 WIB.
Sementara itu, penerbangan JT077 rute Jeddah-Palembang dijadwalkan tiba pukul 08.15 WIB dengan estimasi kedatangan pukul 08.16 WIB. Namun, pesawat baru tiba di Bandara SMB II pada pukul 08.43 WIB.
Ditambahkanya, Gangguan penerbangan tersebut terjadi karena kondisi jarak pandang di sekitar bandara berada di bawah batas minimum operasional untuk pendaratan. Kondisi itu membuat sejumlah pesawat harus melakukan holding sebelum akhirnya dapat mendarat.
Parolan menjelaskan, keterlambatan tersebut berkaitan dengan proses pendaratan. Pesawat harus menunggu di udara atau melakukan holding ketika jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional.
“Delay-nya terkait dengan pendaratan. Artinya, pesawat holding di udara,” jelasnya.
Meski demikian, seluruh penerbangan yang terdampak akhirnya dapat mendarat di Bandara SMB II setelah kondisi memungkinkan untuk melakukan pendaratan. (CKM)

