Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini merupakan aset penting sebagai wilayah administratif (onderafdeeling) dengan letak strategis untuk lalu lintas ekonomi pada tahun 1870-1900. Awalnya, Tebing Tinggi diusulkan menjadi ibu kota keresidenan oleh Belanda karena letaknya yang strategis untuk meminimalisir ancaman dari warga perbatasan.
Namun, usulan ini dibatalkan dan hanya satu keresidenan, Sumatera, yang dibentuk. Pada masa penjajahan Jepang, onderafdeeling berganti nama menjadi Kewedanaan, dan akhirnya menjadi bagian dari ibu kota Kabupaten Empat Lawang.
Nama Empat Lawang berasal dari bahasa asli daerah tersebut, “Empat Lawangan,” yang berarti empat pendekar atau pahlawan. Menurut cerita, empat tokoh pendekar pernah memimpin dan melindungi daerah ini pada zaman dahulu.
1. Pembentukan Kabupaten
Merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Lahat.
2. Suku Mayoritas
Mayoritas penduduknya adalah suku Lintang.
3. Mata Pencaharian
Sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani.
4. Iklim
Daerah ini dikenal dengan suhu dingin karena curah hujan yang tinggi, dengan suhu berkisar antara 18-30 derajat Celsius.
Ciri Khas Kabupaten Empat Lawang
Kabupaten Empat Lawang terkenal dengan berbagai kuliner khas yang memiliki cita rasa unik, antara lain:
Kelicuk
Lempeng
Sanga duren
Kue suba
Serabi
Lepat
Bubur suro
Gulai kojo
Gonjing

