RELUNG.ID — Kampung Kapitan Palembang, yang terletak di kawasan 7 Ulu, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah peranakan etnis Tionghoa di Bumi Sriwijaya.
Bangunan rumah kayu dua tingkat yang berdiri sejak tahun 1644 ini kini diakui sebagai Cagar Budaya, memperkaya kekayaan sejarah Indonesia.
Sebagai wilayah strategis di tepian Sungai Musi Palembang, Kampung Kapitan dahulu menjadi tempat istirahat dan markas pelayar asal Tiongkok.
BACA Juga : Krisis Kemanusiaan di Jalur Gaza: Lebih dari 100 Ribu Orang Terluka, Hilang, atau Meninggal
“Sejarahnya, Kampung Kapitan ini dijadikan markas dan tempat peristirahatan para pelayar dari Cina. Mereka melakukan bisnis perdagangan dengan Kerajaan Sriwijaya,” ujar Hulubalang Kampung Kapitan Palembang, Karim.
Dibangun oleh Mayor Tjoa Kie Tjuan sekitar tahun 1644, Kampung Kapitan menjadi tempat hunian etnis Tionghoa.
Meskipun kini ramai dikunjungi pada momen Imlek dan perayaan penting bagi suku Tionghoa, Kampung Kapitan memiliki sejarah yang melekat sepanjang tahun.
BACA Juga : Insiden Kecelakaan di Sungai Musi, Enam Orang Meninggal dan Hilang
“Dulu di sini jadi wilayah perdagangan. Belanda mempercayakan kepada seorang Mayor atau Kapitan untuk menjaga jalur laut (Sungai) lewat perdagangan dan menarik pajak,” kata Mulyadi, keturunan Tjoa Kie Tjuan ke-14.
Ketika Tjoa Ham Ling, keturunan kedua Tjoa Kie Tjuan, diangkat menjadi Kapitan, lokasi ini cepat dikenal sebagai Kampung Kapitan. Palembang, sebagai pusat perdagangan di wilayah selatan, menjadi destinasi perantau Tiongkok dari Dinasti Ming yang mendirikan kongsi dagang di Kampung Kapitan.
“Orang-orang Tionghoa dari Dinasti Ming lalu dilanjutkan Dinasti Qing memiliki hubungan dagang yang erat di Palembang. Tidak salah jika dikatakan kawasan 7 Ulu yang terletak di Sungai Musi sebagai wilayah jalur perdagangan, dan mereka menetap pertama di sana,” tambahnya.
BACA Juga : Mahasiswi UNSRI Tewas Dibegal saat Pacaran
Kampung Kapitan Palembang, dengan luas total 1 hektare, telah kokoh berdiri selama 300 tahun. Dengan tiga rumah berbeda fungsi, termasuk rumah khusus tempat ibadah, rumah penyimpanan abu, dan rumah tempat tinggal, Kampung Kapitan menggambarkan kehidupan masa lalu dengan arsitektur limas yang khas.
Garis keturunan Tjoa Kie Tjuan yang telah merantau membuat Kampung Kapitan berdampingan dengan permukiman warga Palembang.
Sementara itu, kawasan ini menjadi destinasi wisata sejarah unggulan, mengajak pengunjung menjelajahi dan menghargai jejak sejarah peranakan Tionghoa yang masih menyala di Bumi Sriwijaya.

