Sebuah kapal kecil yang sarat dengan migran terbalik dalam kegelapan di Selat Inggris pada hari Rabu kemarin (14/12). Akibat kecelakaan tersebut, empat orang tewas.
Dilansir dari APNews, 43 orang berhasil diselamatkan, dengan lebih dari 30 orang ditarik dari air. Operasi tersebut dikoordinasikan oleh Badan Maritim dan Penjaga Pantai Inggris dan melibatkan personel dari Inggris dan Prancis. Belum diketahui apakah masih ada orang yang hilang dalam peristiwa tersebut.
“Investigasi sedang berlangsung dan kami akan memberikan informasi lebih lanjut pada waktunya, Ini adalah insiden yang benar-benar tragis,” kata pemerintah dalam sebuah pernyataan.
Perdana Menteri Rishi Sunak dan pendahulunya telah mengancam untuk mendeportasi mereka yang memasuki negara itu secara ilegal ke Rwanda dalam upaya untuk mencegah orang-orang melakukan penyeberangan. Meski demikian, jumlahnya terus meningkat karena prospek pekerjaan dan pendidikan di Inggris memikat baik migran ekonomi maupun mereka yang melarikan diri dari perang, penganiayaan, dan kelaparan.
Sekitar 44.000 orang telah melakukan perjalanan sepanjang tahun ini, dibandingkan dengan 23.000 sepanjang tahun lalu dan 8.500 pada tahun 2020, menurut angka pemerintah.
Sunak berjanji pada Selasa untuk menghapus simpanan aplikasi suaka dan mengumumkan langkah-langkah baru yang bertujuan membatasi jumlah migran yang melintasi Selat. “Pihaknya juga berencana untuk memperkenalkan UU di awal tahun depan untuk memastikan orang yang datang secara ilegal tidak dapat tinggal di negara tersebut,” pungkasnya.
