RELUNG.ID – Penurunan harga karet dunia pada perdagangan Jumat (26/6/2026) diminta tidak disikapi secara berlebihan oleh para petani. Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumatera Selatan menilai koreksi harga tersebut masih dalam batas wajar dan merupakan bagian dari dinamika pasar komoditas global.
Sekretaris Jenderal Apkarindo Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan harga karet dunia memang mengalami penurunan sekitar Rp2.189 per kilogram. Namun, jika melihat tren dalam beberapa bulan terakhir, nilai jual karet masih jauh lebih baik dibandingkan kondisi pada awal April 2026.
“Penurunan ini lebih merupakan penyesuaian setelah sebelumnya harga naik cukup signifikan. Jadi bukan berarti pasar karet sedang mengalami kejatuhan dalam jangka panjang,” ujarnya, Jumat (26/6/2026).
Menurut Rudi, salah satu penyebab koreksi harga adalah aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan pelaku perdagangan setelah harga terus menguat sejak April hingga pertengahan Juni. Kondisi tersebut membuat tekanan jual meningkat sehingga harga terkoreksi.
Selain faktor tersebut, perlambatan ekonomi global juga memengaruhi permintaan karet alam. Ketidakpastian ekonomi membuat industri otomotif dan produsen ban cenderung mengurangi pembelian bahan baku, sehingga permintaan melemah.
“Di sisi lain, penurunan harga minyak dunia serta meningkatnya produksi karet di sejumlah daerah turut menambah pasokan di pasar. Ketika pasokan bertambah sementara permintaan belum meningkat, harga pun cenderung mengalami penyesuaian,”kata dia.
Meski tidak dapat mengendalikan harga internasional, Rudi menilai petani masih memiliki ruang untuk menjaga pendapatan melalui peningkatan kualitas bahan olah karet (bokar).
Ia mengimbau petani tetap memperhatikan mutu hasil panen agar memperoleh harga jual yang lebih baik di tingkat pembeli. Selain itu, penguatan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) dinilai penting untuk meningkatkan posisi tawar petani sekaligus memudahkan akses informasi harga.
“Yang tidak boleh turun adalah semangat petani dalam menjaga kualitas hasil panen. Kualitas yang baik akan memberikan nilai jual yang lebih tinggi meskipun pasar sedang berfluktuasi,” katanya.[THQ]

