RELUNG.ID — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) kembali meningkat tajam pada musim kemarau tahun ini. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, hingga pertengahan Oktober 2025 telah tercatat 702 kejadian karhutla di seluruh wilayah provinsi, menandakan tren lonjakan signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Tiga kabupaten tercatat sebagai wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni Ogan Ilir, Musi Banyuasin (Muba), dan Ogan Komering Ilir (OKI). Ketiganya selama ini dikenal sebagai kawasan dengan kombinasi lahan mineral dan gambut yang mudah terbakar.
“Total 702 kasus hingga 16 Oktober 2025. Di Ogan Ilir ada 134 kejadian, Muba 132 kejadian, dan OKI 124 kejadian,” ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, Sabtu (18/10/2025).
Selain tiga kabupaten tersebut, empat wilayah lain juga masuk kategori zona merah karena mencatat lebih dari 30 kasus, yaitu Banyuasin (91 kasus), Muara Enim (69 kasus), PALI (59 kasus), dan Musi Rawas (41 kasus).
“Zona merah ini menjadi perhatian utama kami karena potensi penyebaran api sangat cepat. Sebagian besar kebakaran terjadi di lahan perkebunan, semak belukar, dan lahan tidur,” kata Sudirman.
Ia menjelaskan, kondisi cuaca kering ekstrem serta angin kencang mempercepat proses penyebaran titik api. BPBD bersama TNI, Polri, dan Manggala Agni terus melakukan patroli darat dan udara untuk mencegah meluasnya kebakaran.
Data terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan, total lahan terbakar di Sumsel mencapai 4.859 hektare sepanjang Januari–September 2025.
Wilayah terluas berada di Musi Banyuasin (856 hektare) disusul OKI (598 hektare) dan Ogan Ilir (520 hektare). Sisanya tersebar di kabupaten lain seperti OKU, Musi Rawas, dan Muara Enim.
“Sebagian besar lahan yang terbakar merupakan lahan mineral, namun ada juga lahan gambut terutama di OKI dan Banyuasin,” kata Ferdian Kristanto, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera.
Pemerintah Provinsi Sumsel telah mengaktifkan status siaga darurat karhutla sejak Agustus 2025. Lebih dari 1.200 personel gabungan disiagakan di titik-titik rawan, dengan dukungan empat helikopter water bombing.
Selain penanganan lapangan, Pemprov juga menggencarkan program Desa Peduli Api dan memperkuat sistem peringatan dini berbasis citra satelit.
“Penegakan hukum juga kami dorong. Setiap pelaku pembakaran, baik individu maupun korporasi, akan kami proses sesuai aturan,” tegas Sudirman.
Meski jumlah titik panas terus meningkat, Pemprov Sumsel optimistis bencana asap besar seperti tahun-tahun sebelumnya bisa dicegah. Edukasi masyarakat dan pengawasan ketat di lahan perkebunan dinilai menjadi kunci utama.
“Pencegahan tetap lebih penting dari pemadaman. Sekali api muncul, butuh biaya besar dan waktu panjang untuk memadamkannya,” kata Sudirman.[THQ]

