RELUNG.ID — Penyakit Jembrana, yang dikenal sebagai penyakit menular akut pada sapi Bali, masih terdeteksi di Sumatera Selatan (Sumsel) pada tahun 2024. Namun, jumlah kasusnya menurun drastis dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel, Ruzuan Effendi, hanya terdapat 6 kasus penyakit Jembrana tahun ini, yang semuanya ditemukan di wilayah Musi Rawas Utara (Muratara). Jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan tahun 2021, ketika tercatat 159 kasus, termasuk 81 kasus di Palembang.
“Pada 2022 sempat tidak ada kasus sama sekali, tetapi 2023 kembali naik menjadi 47 kasus. Tahun ini hanya ada 6 kasus, dan ini merupakan penurunan yang signifikan,” ujar Ruzuan, Minggu (17/11/2024).
Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit, DKPP Sumsel telah mengeluarkan surat edaran (SE) kepada seluruh kabupaten/kota di Sumsel pada 6 November 2024. Surat ini mengimbau agar masyarakat dan pemilik ternak tetap waspada terhadap penyakit hewan seperti Jembrana, penyakit mulut dan kuku (PMK), cacar kulit (lato-lato), dan rabies.
“Kami terus mengingatkan pemerintah daerah untuk waspada dan memanfaatkan SE sebagai pedoman penanganan penyakit ternak. Penyakit Jembrana harus menjadi perhatian utama karena Sumsel adalah provinsi endemi,” kata Ruzuan.
Ruzuan menjelaskan bahwa penyakit Jembrana pada sapi Bali ditandai dengan gejala seperti depresi, demam, diare berdarah, dan pendarahan di kulit. Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat.
Upaya pencegahan terus dilakukan melalui vaksinasi. Ruzuan juga mendorong pemerintah desa untuk memanfaatkan alokasi dana desa sebesar 20% untuk ketahanan pangan, termasuk pengendalian penyakit ternak.
“Alokasi dana desa ini bisa digunakan untuk pengadaan vaksin ternak di daerah masing-masing. Dengan langkah ini, kami berharap pengendalian penyakit seperti Jembrana dapat lebih efektif,” ungkapnya.
Penyakit Jembrana tetap menjadi ancaman bagi Sumsel sebagai wilayah endemi. Namun, penurunan jumlah kasus pada tahun ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian, seperti vaksinasi dan peningkatan kewaspadaan, mulai membuahkan hasil. DKPP Sumsel berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, pemilik ternak, dan masyarakat dapat terus ditingkatkan untuk memastikan kesehatan hewan ternak di provinsi ini.[AYK]

