RELUNG.ID — Ancaman musim kemarau 2026 mulai dibayangi lebih awal di Sumatera Selatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi periode kering akan dimulai pada Mei dan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus, dengan sejumlah wilayah mengalami kemarau lebih cepat dari biasanya.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sumsel, Wandayantolis, mengungkapkan bahwa beberapa zona musim (ZOM) berpotensi memasuki puncak kemarau lebih awal, yakni ZOM 125 dan 135.
Wilayah yang masuk dalam kategori ini meliputi Palembang, Musi Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, Muara Enim, Ogan Ilir, hingga Ogan Komering Ilir dan Ogan Komering Ulu Timur. Kondisi tersebut membuat daerah-daerah tersebut perlu meningkatkan kewaspadaan lebih dini.
“Wilayah ini berpotensi mengalami puncak kemarau lebih awal sekitar satu bulan dibandingkan biasanya,” ujarnya, Ahad (22/3/2026).
BMKG memperkirakan durasi musim kemarau tahun ini berlangsung antara 3 hingga 5 bulan. Wilayah Sumsel bagian tengah diprediksi mengalami periode kemarau paling panjang, mencapai hingga 15 dasarian atau sekitar lima bulan.
Sementara itu, beberapa daerah seperti Pagar Alam dan Lahat bagian selatan justru diperkirakan mengalami puncak kemarau yang lebih lambat dibandingkan wilayah lainnya.
“Dengan kondisi tersebut, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman utama yang harus diantisipasi sejak dini. Selain itu, risiko kekeringan dan keterbatasan air bersih juga berpotensi meningkat selama periode puncak kemarau, ” kata dia.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah pencegahan, seperti tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghemat penggunaan air.
“Di sisi lain, pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dalam pengendalian titik api dan pengelolaan sumber daya air. Upaya ini dinilai penting untuk meminimalkan dampak yang bisa ditimbulkan selama musim kemarau berlangsung, ” kata dia. [THQ]

