RELUNG.ID – Kementrian Agama (Kemenag) RI, bakal melobi Arab Saudi. Hal ini untuk memperpendek masa tinggal jemaah haji Indonesia.
Meski demikian, Kemenag tengah melakukan kajian terlebih dahulu terkait memperpendek masa tinggal tersebut.
Pembahasan tersebut dilakukan dalam sidang komisi Rakernas Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1444 H/2023 M beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Review Vivo V29 5G, Pilihan Menarik dengan Upgrade yang Signifikan
Menurut Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri, Subhan Cholid, kajian tentang pemangkasan masa tinggal jemaah haji Indonesia di Arab Saudi sudah berlangsung sejak lama.
Permasalahannya terutama terkait aturan penerbangan di Arab Saudi yang tercantum dalam Ta’limatul Hajj.
“Aturan Arab Saudi mengharuskan negara yang mengirimkan lebih dari 30.000 jemaahnya untuk menjalani masa operasional penerbangan minimal 30 hari, baik saat kedatangan maupun kepulangan, sesuai dengan Pasal 16,” katanya.
Baca Juga: Mitsubishi EK X EV: Mobil Listrik dengan Desain Mirip Xpander Buat Minder Wuling Air Ev?
Subhan menjelaskan bahwa dalam Ta’limatul Hajj, masa operasional kedatangan dan kepulangan jemaah haji juga telah diatur.
Masa operasional kedatangan jemaah haji di Arab Saudi dimulai dari tanggal 1 Zulkaidah hingga 4 Zulhijjah, sementara masa operasional kepulangan dimulai dari tanggal 15 Zulhijjah.
“Jika dihitung sejak 1 Zulkaidah, masa operasional kedatangan berlangsung selama 34 hari. Namun, upaya untuk memperpendek masa tinggal jemaah Indonesia dilakukan dengan mengirimkannya mulai tanggal 4 Zulkaidah hingga 4 Zulhijjah,” papar Subhan.
Baca Juga: Drakor Arthdal Chronicles 2 Memulai Debutnya dengan Rating Penonton yang Menjanjikan
“Operasional pemulangan dimulai pada tanggal 15 Zulhijjah. Oleh karena itu, jemaah kloter pertama yang berangkat pada tanggal 4 Zulkaidah baru bisa pulang pada tanggal 15 Zulhijjah, sehingga masa tinggal minimal adalah 41 hari,” tambahnya.
Subhan menyatakan bahwa Kementerian Agama pernah mengajukan pertanyaan terkait aturan dalam Ta’limatul Hajj kepada pihak Arab Saudi. Jawabannya adalah karena keterbatasan slot penerbangan.
Saat ini, Indonesia mendapatkan rata-rata 17 hingga 18 slot penerbangan per hari. Dengan infrastruktur bandara yang ada saat ini, Arab Saudi belum dapat memberikan tambahan slot penerbangan.
Baca Juga: Anime Blue Exorcist: Shimane Illuminati Saga Mulai Debut Januari 2024
Subhan berharap agar upaya untuk memperpendek masa tinggal ini dapat terwujud dengan membahas kemungkinan perluasan bandara dengan pemerintah Arab Saudi.
Selain itu, ia juga berharap agar Arab Saudi membuka bandara baru, seperti di Thaif yang berjarak lebih dekat dengan Makkah.
Hal ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah slot penerbangan yang tersedia untuk Indonesia.
Baca Juga: Soal Perampokan Agen BRILink, Ini Respon Pimpinan Cabang BRI Palembang
“Ini memerlukan lobi yang intensif dan berkelanjutan. Meskipun mungkin tidak akan terwujud dalam waktu dekat, saya yakin bahwa di masa depan hal ini dapat direalisasikan,” pungkasnya.

