RELUNG.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan empat juta dosis vaksin untuk mencegah penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di Indonesia. Program vaksinasi ini mencakup distribusi vaksin ke 25 provinsi pada tahun 2025.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda, menjelaskan bahwa pada Desember 2024, 51.200 dosis vaksin hibah telah disalurkan ke delapan provinsi, disertai dengan 65 ribu dosis vaksinasi mandiri yang dilakukan di berbagai daerah.
“Sebanyak 124.225 dosis vaksin telah didistribusikan ke tujuh provinsi dan unit perbibitan ternak, di antaranya Jawa Barat (20 ribu dosis), Sumatra Barat (20 ribu dosis), Sumatra Selatan (10 ribu dosis), Sulawesi Barat (10 ribu dosis), Jawa Tengah (40 ribu dosis), Bali (17 ribu dosis), Bangka Belitung (4 ribu dosis), dan unit perbibitan ternak (3.225 dosis),” ungkap Agung usai Rapat Koordinasi Bidang Pangan di Palembang, Selasa (14/1/2025).
Agung menambahkan bahwa distribusi vaksin dilakukan secara bertahap sesuai permintaan dinas di provinsi. Untuk tahun 2025, target distribusi adalah 500 ribu dosis pada Januari, 1,2 juta dosis pada Februari, dan 400 ribu dosis pada Maret.
“Sisanya, dua juta dosis, akan dialokasikan untuk vaksinasi periode kedua pada Juli hingga September 2025,” jelasnya.
Kepala Balai Besar Veteriner Farma (Pusvetma), Edy Budi Susila, memastikan bahwa vaksin PMK yang diproduksi telah memenuhi standar nasional.
“Pusvetma siap memenuhi kebutuhan vaksin dalam negeri dan menjamin kualitasnya. Vaksin ini telah terbukti aman dan memiliki efikasi sesuai syarat nasional,” kata Edy.
Ia berharap vaksin yang telah didistribusikan dapat segera diaplikasikan di lapangan untuk menekan angka kasus PMK di berbagai wilayah.
Langkah ini merupakan upaya strategis pemerintah untuk memastikan stabilitas sektor peternakan nasional. Dengan vaksinasi yang optimal, diharapkan penyebaran PMK dapat dicegah sehingga peternak terlindungi dari kerugian ekonomi akibat wabah tersebut.
“Pemerintah terus berupaya memastikan seluruh daerah yang membutuhkan vaksin mendapatkannya tepat waktu. Kerja sama antara dinas, peternak, dan pemerintah pusat sangat diperlukan untuk keberhasilan program ini,” tutup Agung. [TRA]

