RELUNG.ID — Kerbau Pampangan, hewan ternak khas Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan (Sumsel), memiliki potensi besar untuk menjadi alternatif hewan kurban. Dengan kebutuhan hewan potong di Sumsel yang mencapai 30 ribu ekor setiap tahunnya, kerbau ini dapat menjadi solusi baru dalam memenuhi permintaan tersebut.
Dokter Hewan Ahli Madya Sumsel, Jafrizal, mengungkapkan bahwa Kerbau Pampangan diakui sebagai plasma nutfah atau sumber daya genetik ternak lokal Indonesia yang tidak dimiliki oleh daerah lain.
“Kerbau ini merupakan aset genetika lokal yang perlu dijaga kelestariannya,”ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (8/2/2025).
Namun, di tengah potensi tersebut, populasi Kerbau Pampangan justru mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, populasi yang pada 2022 masih mencapai 27.161 ekor, kini tersisa hanya 15.110 ekor pada 2023.
Jafrizal menjelaskan bahwa penurunan populasi ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah alih fungsi lahan rawa, habitat alami Kerbau Pampangan, yang kini banyak beralih menjadi lahan perkebunan. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi di Sumsel turut memperparah situasi dengan mengurangi ketersediaan pakan alami bagi kerbau.
“Konservasi lahan rawa yang terus berkurang berdampak langsung pada habitat dan pakan alami kerbau. Ditambah lagi dengan kebakaran hutan yang semakin sering terjadi,” jelasnya.
Selain faktor lingkungan, serangan penyakit juga menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup Kerbau Pampangan. Penyakit seperti Septisemia Epizootika (SE), Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), serta infeksi parasit darah menyebabkan tingkat kematian yang tinggi pada populasi kerbau ini.
“Wabah penyakit tersebut mempercepat penurunan populasi karena menyebabkan angka kematian yang signifikan,”tambah Jafrizal.
Meski menghadapi tantangan, Kerbau Pampangan tidak hanya berpotensi sebagai hewan kurban, tetapi juga sebagai sumber pangan berkualitas. Daging dan susu yang dihasilkan memiliki nilai gizi tinggi. Susu kerbau rawa ini bahkan kerap diolah menjadi berbagai produk tradisional khas Sumsel, seperti gulo puan, sagon puan, dan minyak kerbau.
Lebih jauh, Jafrizal menambahkan bahwa dengan pengolahan modern, susu Kerbau Pampangan bisa dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi seperti keju mozzarella.
“Produk olahan susu ini berpotensi mendukung program makan bergizi gratis dan memenuhi kebutuhan gizi seimbang masyarakat Sumsel,”katanya.
Melihat penurunan populasi yang mengkhawatirkan, diperlukan langkah serius untuk melindungi Kerbau Pampangan. Upaya konservasi habitat alami, pengendalian penyakit, serta pengembangan budidaya secara modern menjadi kunci untuk menjaga kelestarian plasma nutfah ini.
Selain itu, pengembangan produk olahan dari susu dan daging Kerbau Pampangan dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Dengan pendekatan yang tepat, Kerbau Pampangan tak hanya menjadi simbol kekayaan genetika Sumsel, tetapi juga pilar ketahanan pangan di masa depan.
Pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah strategis untuk melindungi populasi Kerbau Pampangan, memastikan keberlanjutan ekosistem, dan memanfaatkan potensi ekonomi yang dimilikinya secara optimal.[THQ]

