RELUNG.ID — Diplomasi maraton selama 30 menit antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington, D.C., Kamis (19/2/2026) waktu AS, membuahkan hasil bersejarah. Kedua pemimpin resmi menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART), sebuah kesepakatan dagang “murni” yang diprediksi bakal menjadi katalisator ekonomi kedua negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut momentum ini sebagai awal dari “New Golden Age” atau era keemasan baru hubungan bilateral Indonesia-Amerika Serikat.
Satu hal yang membuat perjanjian ini unik dibandingkan kesepakatan AS dengan negara lain adalah sifatnya yang sangat spesifik. Airlangga menjelaskan bahwa Indonesia berhasil menegosiasikan penghapusan pasal-pasal non-ekonomi.
“Kesepakatan ini murni fokus pada perdagangan. Kita sepakat mencabut pasal-pasal sensitif seperti kerja sama reaktor nuklir hingga isu pertahanan. Jadi, ini murni urusan bagaimana barang kita laku di sana dan barang mereka masuk ke sini secara adil,” ujar Airlangga dalam konferensi pers virtual, Jumat (20/2/2026).
Melalui ART, sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia kini mendapatkan fasilitas khusus untuk menembus pasar Paman Sam. Produk-produk strategis yang akan menikmati tarif hingga 0 persen meliputi:
Sektor Perkebunan:
Kelapa sawit, kopi, kakao, dan rempah-rempah.
Teknologi & Industri :
Elektronik, semikonduktor, hingga suku cadang pesawat terbang.
Sektor Padat Karya:
Tekstil dan apparel (pakaian jadi).
Khusus untuk sektor tekstil, tarif 0 persen ini diharapkan menjadi angin segar bagi sekitar 4 juta pekerja langsung di industri garmen nasional, serta berdampak positif bagi lebih dari 20 juta masyarakat yang bergantung pada ekosistem ini.
Sebagai bentuk timbal balik (resiprokal), Indonesia juga memberikan tarif 0 persen untuk produk pangan utama dari AS, yakni gandum dan kedelai. Langkah ini bukan tanpa alasan, pemerintah ingin memastikan stabilitas harga pangan di dalam negeri tetap terjaga.
“Dengan kedelai dan gandum tarif 0 persen, biaya produksi bahan baku mi, tahu, dan tempe bisa ditekan. Ini artinya beban masyarakat sebagai konsumen tidak bertambah,” jelas Airlangga.
Untuk mencegah adanya gejolak harga atau ketidakseimbangan neraca dagang di masa depan, kedua negara sepakat membentuk Council of Trade Investment. Wadah ini akan berfungsi sebagai “wasit” yang membahas setiap persoalan investasi dan perdagangan, termasuk jika terjadi kenaikan harga yang melampaui kesepakatan awal.
ART dijadwalkan mulai efektif 90 hari setelah proses hukum dan konsultasi internal di masing-masing negara rampung, termasuk koordinasi Pemerintah Indonesia dengan DPR RI.[THQ]

