RELUNG.ID — Terlahir dari keluarga petani sederhana di Sekayu, Sumatra Selatan, tak membuat Neshya Florence Sevani merasa rendah diri.
Remaja yang merupakan putri dari Ruspayen dan Husnaini ini justru termotivasi untuk membanggakan orang tuanya. Salah satu caranya adalah melalui keanggotaannya di Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Neshya, yang merupakan siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Sekayu, Musi Banyuasin (Muba), mengungkapkan tekadnya untuk menunjukkan kepada semua orang yang pernah meremehkan dirinya.
“Saya ingin menunjukkan kepada semua orang yang menganggap remeh,” ujarnya.
Berkat tekad kuatnya, Neshya berhasil terpilih sebagai anggota Paskibraka Sumatra Selatan (Sumsel) pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 tahun ini.
Neshya telah berjuang keras mengikuti seleksi pemilihan anggota Paskibraka tingkat provinsi. Ia menjelaskan bahwa alasan utama tekunnya menjalani latihan Paskibraka adalah untuk membuktikan bahwa seseorang bisa berprestasi meskipun berasal dari keluarga sederhana.
“Saya ingin yang suka anggap remeh melihat saya bisa berprestasi lewat Paskibraka,” ungkapnya.
Meskipun Neshya tidak terpilih untuk mewakili Sumsel di tingkat nasional, ia tetap bangga dan bersyukur.
“Sebenarnya jadi Paskibraka itu sama saja, tempatnya saja yang berbeda. Tetap bersyukur,” ujarnya.
Meskipun ada sedikit kekecewaan karena tidak bisa melenggang ke Istana Negara Jakarta, Neshya yakin bahwa yang paling penting adalah kecintaan terhadap Tanah Air.
Neshya yang merupakan bungsu dari tujuh bersaudara ini telah aktif di paskibra sejak SMP. Ketika bersekolah di SMA, ia mengikuti seleksi hingga tingkat provinsi dan mencoba ke tingkat nasional, meskipun belum berhasil. Namun, ia tetap fokus dan bertekad untuk memberikan yang terbaik di mana pun ia berada.
Dibesarkan oleh ayah yang seorang petani karet dan ibu rumah tangga, Neshya merasa bahagia dengan kasih sayang tulus dari orang tuanya.
“Saya anak bungsu dari tujuh bersaudara dan kakak-kakak saya kebanyakan pedagang. Cita-citanya Insyaallah bisa jadi seorang polisi,” ungkapnya.
Saat ini, Neshya sedang fokus mengikuti karantina Paskibraka sembari tetap memantau kegiatan di sekolah, karena ia juga aktif dalam pembelajaran di kelas 11. Ia berpesan bahwa yang paling penting dalam menjalani hidup adalah bersyukur dan tidak berpikiran negatif.
“Ya, seperti suka duka menjalani latihan ini (Paskibraka). Jangan diambil hati kalau ada perkataan yang kurang berkenan dari siapa pun, pelatih atau senior, karena untuk kebaikan,” tambahnya.
Kisah Neshya adalah inspirasi bagi banyak orang bahwa dengan tekad dan kerja keras, seseorang bisa mencapai prestasi tinggi, meskipun berasal dari latar belakang sederhana.[AYK]

