Korban dalam insiden perahu imigran ilegal dari Lebanon terus bertambah. Tercatat, korban tewas mencapai 89 orang.
Kini, sebagian korban telah dipulangkan dan dimakamkan di sebuah kamp pengungsian di Lebanon Utara, Sabtu (24/9) waktu setempat.
Dilansir dari The Association Press, Kepala Rumah Sakit al-Basel di kota pesisir Suriah Tartus mengatakan pada hari Sabtu bahwa jumlah kematian telah mencapai 89. Kemudian, 20 orang menerima perawatan di pusat medis, enam dipulangkan.
Tentara Lebanon juga mengumumkan telah menahan orang yang diduga mengorganisir perjalanan mematikan tersebut.
Meski demikian, insiden tersebut tidak akan membuat penduduk menyerah untuk melarikan diri dari Lebanon melalui laut ke Eropa. Mengingat kondisi kemisikan yang terjadi di Negara tersebut, membuat puluhan ribu orang kehilangan pekerjaan serta mata uang nasional turun lebih dari 90 persen.
Orangtua korban, Omar Abdul Al mengatakan putranya telah mencoba meninggalkan Lebanon sebelumnya tetapi tidak berhasil karena kadang-kadang kapal migran yang dia tumpangi mengalami masalah teknis atau menghadapi laut lepas. Terkadang dia harus berenang kembali ke pantai.
“Kami tidak ingin tinggal di sini lagi. Kami ingin pergi,” kata Omar Abdul-Al.
Dia pun mengaku terus mendorong mendiang putranya untuk pergi meninggalkan Lebanon. Mengingat, anak-anaknya semua berpendidikan baik tetapi mereka tidak dapat menemukan pekerjaan. Dikarenakan krisis parah.

