“Banjir besar serta tanah longsor beberapa waktu lalu membuat masyarakat Muara Enim menderita. Solusinya butuh kebijakan yang berorientasi terhadap kelestarian lingkungan untuk mencegah bencana lebih besar melanda. dan sosok Edwin cukup mengerti akan hal itu dilihat dari latar belakangnya,” terangnya.
Sementara itu, salah seorang mahasiswa asal Muara Enim Adi Riansyah mengatakan, tagline ‘Muara Enim BERSIH’ yang diperkenalkan Edwin sangat menginspirasi, karena mengedepankan nilai-nilai agama dan komitmen untuk pembangunan yang berkelanjutan.
“Muara Enim saat ini butuh itu. Bersih dari berbagai pratik korupsi, bersih dari dampak buruk kerusakan lingkungan sehingga menjadikan wilayah serta masyarakatnya sejahtera,” ungkapnya mahasiswa Jurusan MPI, UIN Sunan Gunung Jati Bandung.
Pria kelahiran Desa Datar Lebar Kecamatan Semendo Darat Ulu (SDU) ini menyebut, sebagai seorang mahasiswa, pemerintahan saat ini perlu dilakukan perbaikan dan pembaharuan. Sehingga, arah pembangunan yang dilakukan menjadi lebih jelas sesuai dengan tujuan.
Namun, perbaikan dan pembaharuan ini tidak bisa terlaksana apabila orang yang memimpin Muara Enim kedepannya masih orang-orang lama dengan pola pikir serta metode kepemimpinan yang konvensional.
“Terlebih lagi calon pemimpin yang tersandera kasus hukum. Bagaimana kedepannya dia bisa fokus memimpin jika masih dibayangi kasus hukum tersebut. Untuk itu, kita butuh pemimpin yang transparan dan memiliki visi yang jelas untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (ril)

