RELUNG.ID- Mendengar nama Palembang, sebagian besar orang pasti langsung teringat dengan pempek dan kuah cuko yang khas. Namun, saat Lebaran tiba, ada beragam kuliner khas Palembang lainnya yang turut meramaikan meja makan, seperti kue lapan jam, maksuba, dan gulo puan.
Hidangan-hidangan ini bukan hanya lezat, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang berkaitan erat dengan budaya Kesultanan Palembang Darussalam.
Menurut budayawan Palembang, Vebri Al Lintani, tradisi berbagi makanan antar keluarga dan kerabat menjadi bagian penting dari perayaan Lebaran di Palembang. Biasanya, masyarakat akan saling bertukar makanan, baik lauk pauk maupun kue, yang dikemas dalam rantang.
“Saling tukar makanan dalam rantang, lalu diisi kembali oleh penerima, adalah tradisi masyarakat Palembang yang sudah ada sejak era Kesultanan Palembang Darussalam,” ujar Vebri, Jumat (28/3/2025).
Salah satu kue khas yang selalu hadir dalam perayaan Idul Fitri di Palembang adalah kue lapan jam. Sesuai namanya, kue ini dimasak selama delapan jam dengan teknik pengukusan yang panjang hingga menghasilkan tekstur lembut dan cita rasa yang manis legit. Kue ini dibuat dari campuran telur, susu, mentega, dan gula.
Selain kue lapan jam, ada juga maksuba, yang memiliki kemiripan dengan kue lapis, tetapi lebih padat dan kaya rasa. Kue ini terbuat dari telur bebek, susu, dan gula, tanpa menggunakan tepung, sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dan beraroma khas.
Tak ketinggalan, bolu kojo dengan warna hijau cerah dari daun pandan juga menjadi sajian khas Lebaran. Kue ini memiliki rasa manis dengan tekstur yang sedikit kenyal, cocok dinikmati bersama teh atau kopi.
Dari jajanan tradisional peninggalan Kesultanan Palembang, terdapat gulo puan, makanan manis berbahan dasar susu kerbau yang dahulu hanya disajikan untuk keluarga sultan.
Kini, gulo puan bisa ditemukan di pasar-pasar takjil atau disajikan saat Lebaran sebagai makanan istimewa.
Sejarawan dari Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Kemas AR Panji, menjelaskan bahwa gulo puan dan beberapa kudapan lainnya, seperti kue gandus, srikaya, dan dadar jiwo, berasal dari warisan kuliner Kesultanan Palembang Darussalam. Pada masa lalu, kudapan ini menjadi jamuan khusus untuk tamu kerajaan dan kini tetap lestari sebagai bagian dari budaya kuliner Palembang.
Selain sajian khas Lebaran, Palembang juga memiliki tradisi Sanjo, yang berarti saling berkunjung ke rumah keluarga dan tetangga setelah shalat Id. Tradisi ini mempererat silaturahmi dan semakin meriah dengan hidangan khas yang disajikan di setiap rumah.
Ada juga tradisi Rumpak-Rumpakan, di mana masyarakat secara berkelompok berjalan keliling kampung setelah shalat Id dengan iringan syarofal anam (syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW). Tradisi ini menambah nuansa keakraban dan kebersamaan dalam perayaan Lebaran.
Dengan keberagaman kuliner dan tradisi khasnya, Palembang menawarkan pengalaman Lebaran yang tak hanya penuh makna, tetapi juga menggugah selera. Dari kue lapan jam hingga gulo puan, setiap hidangan memiliki cerita dan sejarahnya sendiri, menjadikan Lebaran di Palembang semakin istimewa.[DSK]

