RELUNG.ID – Dalam momentum Ramadan yang penuh berkah, marilah manfaatkan untuk menjadikan dan mengembangkan diri menjadi kepribadian yang maik.
Meskipun di tengah gencarnya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Hal ini diungkapkan oleh Dosen Fakultas Psikologi UIN Raden Fatah Palembang, Eko Oktapiya Hadinata, Senin sore (16/3).
Dia menekankan bahwa kepribadian yang positif tidak hanya menjadi sumber inspirasi dan kekaguman, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari.
“Manusia yang memiliki kepribadian baik cenderung disenangi, dikagumi, dan dicintai oleh banyak orang,” ujar beliau, sambil menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam setiap interaksi.
Beliau juga menyampaikan bahwa konsep kepribadian telah lama menjadi bahan renungan dalam alquran. Penggunaan kata-kata seperti al-insan dan al-basyar menggambarkan kompleksitas makna kemanusiaan yang diwarnai oleh berbagai dimensi.
Menurut Hadinata, setiap diksi tersebut memiliki nuansa berbeda dalam mendeskripsikan sifat manusia, sehingga memahami esensinya bukanlah hal yang mudah.
Tak hanya dari perspektif keagamaan, Hadinata juga mengaitkan pandangan psikoanalisis yang mengemukakan adanya tiga struktur dasar kepribadian, yakni ego, id, dan superego.
“Pembentukan kepribadian tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari akumulasi pengalaman hidup yang terus menerus,” ujarnya.
Lebih jauh, dalam konteks kepribadian Islam, beliau menjelaskan adanya tiga tipe utama:
Nafsul Ammarah: Bagian diri yang didominasi oleh dorongan hawa nafsu.
Nafsul Lawamah: Bagian yang kerap mengalami konflik internal, bimbang antara rasa cinta dan benci.
Nafsul Mutmainah: Bagian yang didominasi oleh hati, menghasilkan ketenangan dan keyakinan.
Hadinata menekankan bahwa keseimbangan antara ketiga elemen tersebut adalah kunci untuk membentuk kepribadian yang ideal.
“Kepribadian yang baik harus mampu memadukan aspek moral, emosional, dan rasional, sehingga tercipta harmoni dalam setiap interaksi sosial,” terangnya.
“Usaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik seharusnya tidak berhenti di bulan Ramadan saja. Tapi, setiap individu terus mengasah dan menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (LWM)

