RELUNG.ID – Puasa memiliki makna mendalam yang mencakup aspek fisik, emosional dan spiritual. Bukan hanya sebagai ibadah ritual.
Puasa harus dijalankan dengan penuh keikhlasan agar dapat menjadi perisai untuk menjaga diri dari berbagai pengaruh negatif.
Hal ini terungkap dalam kultum Ramadan, Kepala Prodi Magister Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Raden Fatah Palembang, Dr Lukman Nul Hakim, M.A yang tayang di Relung Media.
Dr Lukman mengutip sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori melalui jalur Abu Hurairah, di mana disebutkan bahwa puasa adalah perisai.
Menurut beliau, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan ucapan kotor dan perilaku yang tidak bijaksana.
“Siapa yang berpuasa, hendaklah tidak mudah terprovokasi. Bila ada yang mengajak berkelahi atau melakukan tindakan yang membangkitkan emosi, jawablah dengan tegas, ‘Sesungguhnya aku berpuasa’,” tegasnya.
Dalam penjelasannya, beliau menguraikan bahwa puasa memiliki tiga fungsi utama sebagai perisai, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani:
- Perlindungan dari Api Neraka: Puasa merawat dan menjaga diri dari sentuhan api neraka.
- Menjaga dari Pengaruh Hawa Nafsu: Dengan menahan syahwat, puasa membantu mencegah diri terlukai oleh keinginan yang dapat menjauhkan seseorang dari jalan kebenaran.
- Mencegah Dosa: Puasa membantu menjaga jiwa dari perbuatan dosa yang bisa mengakibatkan terjerumus ke dalam kesesatan.
Beliau menambahkan bahwa puasa berfungsi sebagai media untuk membentuk jiwa yang matang dan cerdas. Dengan mengokohkan kematangan jiwa, seseorang dapat menyaring hal-hal yang esensial dalam kehidupan, sehingga mampu menghadapi tantangan dengan kebijaksanaan dan ketenangan.
Dia juga menekankan bahwa keberhasilan seseorang tidak diukur dari kehebatan fisik, melainkan dari kedewasaan dan kemanusiaan yang dimiliki.
Melalui puasa, jiwa seseorang dapat mencapai kebebasan hakiki—bebas dari belenggu hawa nafsu yang seringkali menghambat perkembangan spiritual.
Dengan demikian, puasa bukan hanya upaya menahan diri dari hal-hal negatif, tetapi juga sebagai latihan pengorbanan yang menuntun kepada kerelaan dan cinta Allah yang sejati.
“Marilah kita memaknai puasa sebagai suatu upaya membangun karakter dan menyempurnakan diri, agar pada hari pembalasan nanti, setiap individu dapat berdiri di hadapan Allah dengan jiwa yang takwa, merdeka, dan matang,” terangnya.
“Ujian dan cobaan dalam kehidupan selalu ada, namun dengan semangat puasa, setiap tantangan dapat dihadapi dengan senyum dan keyakinan akan rahmat Allah,” tutupnya. (LWM)

