RELUNG.ID — Pemerintah Ethiopia telah mengambil langkah progresif dengan memberlakukan larangan impor kendaraan non-listrik atau yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).
Larangan impor BBM sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
Kementerian Transportasi dan Logistik Ethiopia mengumumkan pelarangan tersebut, menyatakan bahwa kendaraan baru hanya akan diizinkan masuk ke negara tersebut jika menggunakan tenaga listrik.
BACA Juga : Penjelasan Pertamina soal Harga Tiket Pesawat Naik Karena Avtur Mahal
“Keputusan telah diambil bahwa mobil tidak boleh masuk ke Ethiopia kecuali mobil listrik,” kata Alemu Sime, Menteri Transportasi dan Logistik Ethiopia, dikutip Rmol Sumsel, Sabtu (10/2).
Meskipun langkah ini menunjukkan komitmen Ethiopia terhadap perlindungan lingkungan, tantangan muncul terkait keterjangkauan mobil listrik bagi sebagian besar penduduk.
Sebagian besar penduduk mungkin belum mampu membeli mobil listrik, mengingat harga yang lebih tinggi daripada kendaraan konvensional.
BACA Juga : 3 Rangkaian KRL Akan Diimpor Indonesia dari Bejing
Walaupun demikian, inisiatif ini dilihat oleh banyak warga Ethiopia sebagai langkah yang penting menuju agenda hijau yang lebih luas.
Rencana Pembangunan Sepuluh Tahun (2021-2030) Ethiopia menetapkan target ambisius untuk memperkenalkan setidaknya 152.800 kendaraan listrik ke negara tersebut pada tahun 2030.
Saat ini, jumlah kendaraan listrik di Ethiopia masih terbatas, dengan hanya sekitar 7.200 kendaraan listrik di antara 1,2 juta kendaraan lainnya yang melintasi jalan-jalannya.
Langkah larangan impor kendaraan non-listrik ini diharapkan dapat mempercepat transisi menuju mobilitas yang lebih berkelanjutan di Ethiopia.

