RELUNG.ID – Tiga Struktur Makam Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II di Kota Ternate resmi mendapat persetujuan untuk ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional.
Penetapan ini diputuskan dalam Sidang Kajian Pemeringkatan Cagar Budaya Nasional yang digelar pada Kamis, 12 Juni 2025 di Hotel Kristal, Jakarta.
Ketiganya yaitu, Struktur Cagar Budaya Makam Sultan Baabullah di Kota Ternate, Struktur Cagar Budaya Makam Sultan Mahmud Badaruddin II di Kota Ternate, Bangunan Cagar Budaya Masjid Kesultanan Ternate (Sigi Lamo) di Kota Ternate.
“Ketiganya dinilai memiliki nilai sejarah, arsitektur, serta makna budaya yang tinggi dan layak mendapat pengakuan serta perlindungan di tingkat nasional,” kata Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nasional, Surya Helmi.
“Ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi dalam menjaga warisan sejarah bangsa,” tambahnya.
Sementara itu, Sultan Palembang Darussalam SMB IV Jaya Wikrama, RM Fauwaz Diradja menilai pengakuan terhadap Makam SMB II sebagai Cagar Budaya Nasional merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa.
“Ini sebuah capaian yang patut diapresiasi karena tidak mudah untuk menaikkan status cagar budaya menjadi tingkat nasional,” ujarnya.
SMB IV juga berharap ke depan sejumlah situs sejarah di Palembang dapat menyusul ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.
“Dengan menjadi cagar budaya nasional, akan lebih banyak masyarakat, tak hanya di Palembang, tapi dari daerah lain juga dapat mengenal sejarah dan budaya Palembang,” tambahnya.
Jejak Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II
Sultan Mahmud Badaruddin II, lahir di Palembang pada 23 November 1767 (1 Rajab 1181 H), merupakan tokoh penting dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme. Ia diangkat sebagai Sultan Palembang Darussalam pada 12 April 1804 (22 Zulhijah 1218 H) menggantikan ayahandanya, Sultan Muhammad Bahauddin.
Selama masa kepemimpinannya, SMB II menghadapi dua kekuatan kolonial: Inggris dan Belanda.
Konflik memuncak karena perebutan Pulau Bangka yang kaya timah dan lada, hingga pecah berbagai perang, termasuk pertempuran sengit melawan Inggris di pedalaman Palembang (1812–1814) dan Perang Menteng melawan Belanda pada 1819 yang dimenangkan oleh pihak Palembang.
Namun pada 1821, SMB II berhasil ditangkap dan diasingkan ke Ternate setelah ditipu melalui siasat adu domba kolonial Belanda. Ia tinggal di Ternate selama 35 tahun, hingga wafat pada 26 September 1852.
Di Ternate, Sultan tidak hanya menjalani hidup sebagai tahanan politik, namun juga tetap aktif dalam dakwah Islam, pendidikan, dan sastra. (DSK)

