RELUNG.ID – Popularitas game Roblox yang meroket beberapa tahun terakhir menuai sorotan tajam dari sejumlah pihak. Terbaru, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menilai permainan ini bisa berdampak negatif pada perkembangan anak-anak.
Mu’ti menyebut bahwa Roblox berpotensi memicu perilaku kekerasan, menurunkan minat bersosialisasi di dunia nyata, hingga membuat anak-anak menjadi pasif atau mager. “Game ini bukan sekadar hiburan, tapi juga memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perilaku,” kata Mu’ti.
Berdasarkan data Statista per kuartal II 2025, jumlah unduhan Roblox mencapai 72,4 juta pengguna. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam satu dekade terakhir. Sekitar 80 persen pemain mengakses game ini lewat ponsel, dan meskipun berasal dari Amerika Serikat, pengguna terbanyak justru berasal dari kawasan Eropa. Asia Pasifik menyumbang sekitar 26 persen pemain, meski belum ada angka spesifik untuk Indonesia.
Yang menjadi perhatian, Roblox dimainkan oleh berbagai rentang usia. Data terbaru menunjukkan bahwa 40 persen pengguna adalah anak-anak usia 3–12 tahun. Namun, 44 persen pemain lainnya justru berusia di atas 17 tahun—dengan rincian 25 persen berusia 17–24 tahun dan 19 persen di atas 25 tahun.
Kondisi ini mengundang kekhawatiran para psikolog. Mira Amir, Psikolog Anak lulusan Universitas Indonesia, mengingatkan bahwa komunikasi bebas antar pemain di Roblox bisa membuka celah bagi interaksi yang tidak pantas. “Anak-anak bisa saja berbincang dengan orang dewasa yang tidak dikenal, tanpa pengawasan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Mira menilai ada potensi anak-anak terjerumus ke tindak kriminal karena godaan untuk membeli item berbayar dalam game. “Ada kasus anak mencuri demi membeli fitur tertentu. Game ini lintas usia, tapi sering kali disalahpahami sebagai game anak-anak,” ungkapnya.[THQ]

