RELUNG.ID – Isra Mikraj merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam, yang menjadi momen turunnya perintah salat lima waktu. Namun, berbeda dengan banyak negara mayoritas Muslim lainnya, Arab Saudi tidak memperingati Isra Mikraj sebagai hari besar keagamaan maupun hari libur nasional.
Di Indonesia, Isra Mikraj dirayakan secara luas dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti pengajian dan perlombaan, serta ditetapkan sebagai hari libur nasional. Namun, di Arab Saudi, peringatan Isra Mikraj tidak termasuk dalam kalender resmi negara. Berikut beberapa alasan mengapa peristiwa agung ini tidak dirayakan di tanah kelahiran Islam tersebut.
Pendekatan Konservatif terhadap Tradisi
Arab Saudi dikenal sebagai negara yang menerapkan ajaran Islam dengan pendekatan konservatif. Negara ini cenderung mengikuti pandangan yang hanya mengakui perayaan-perayaan yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Karena Isra Mikraj tidak disertai perintah eksplisit untuk dirayakan dalam dua sumber utama ajaran Islam tersebut, pemerintah Saudi tidak menetapkannya sebagai peringatan resmi.
Pendekatan ini sangat dipengaruhi oleh Wahhabisme, sebuah gerakan reformasi Islam yang didirikan oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab pada abad ke-18. Gerakan ini menyerukan untuk kembali pada ajaran Islam murni, tanpa tambahan ritual atau perayaan yang tidak secara jelas diperintahkan oleh Al-Qur’an atau sunnah.
Fokus pada Ibadah Harian
Masyarakat Arab Saudi lebih menekankan pentingnya ibadah harian seperti salat lima waktu, puasa, dan kegiatan keagamaan lainnya. Mereka cenderung tidak menambahkan perayaan-perayaan khusus yang dianggap tidak wajib dalam syariat Islam.
Pendekatan ini juga mencerminkan pandangan bahwa memperingati peristiwa seperti Isra Mikraj tidak boleh menggantikan atau mengurangi fokus pada ibadah rutin yang diwajibkan dalam Islam.
Tradisi Sosial dan Budaya Arab Saudi
Budaya keagamaan di Arab Saudi juga berakar pada tradisi kesederhanaan dalam beribadah. Tidak seperti negara lain yang sering menggelar acara besar untuk memperingati momen keagamaan, Saudi lebih menekankan pada praktik keagamaan individual tanpa tambahan ritual atau perayaan.
Pengaruh Wahhabisme dalam Kebijakan Keagamaan
Wahhabisme, yang menjadi fondasi utama praktik keagamaan di Arab Saudi, memainkan peran besar dalam pendekatan negara ini terhadap perayaan keagamaan. Gerakan ini menganjurkan umat Islam untuk menjauhi praktik-praktik yang dianggap sebagai bid’ah atau inovasi dalam agama, termasuk perayaan yang tidak memiliki landasan kuat dalam sumber utama ajaran Islam.
Kesederhanaan dalam Islam
Arab Saudi menilai bahwa ajaran Islam mengedepankan kesederhanaan dalam menjalankan ibadah dan ritual. Oleh karena itu, mereka memilih untuk tidak menjadikan Isra Mikraj sebagai momen perayaan yang besar, melainkan fokus pada pemahaman mendalam tentang makna peristiwa tersebut.
Meskipun begitu, peristiwa Isra Mikraj tetap menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Islam yang diakui oleh seluruh umat Muslim, termasuk di Arab Saudi. [TRA]

