RELUNG.ID- Insiden meninggalnya dua pendaki wanita, Lilie Wijayati Poegiono dan Elsa Laksono, di Puncak Carstensz, Pegunungan Jayawijaya, Papua, masih menyisakan duka mendalam bagi para pendaki gunung di Indonesia. Keduanya meninggal dunia saat perjalanan turun dari Puncak Piramida Carstensz, diduga akibat acute mountain sickness (AMS) atau penyakit ketinggian.
Gunung tertinggi di Indonesia ini dikenal memiliki medan yang sangat menantang, tetapi tetap menjadi impian banyak pendaki. Puncak yang masuk dalam tujuh gunung tertinggi di dunia atau *World Seven Summits* ini bahkan disebut memiliki jalur pendakian tersulit di Indonesia.
Seorang pendaki asal Sumatera Selatan, Muhammad Razaq, berbagi pengalaman saat berhasil mencapai Puncak Carstensz dalam ekspedisi “Mafesripala World Seven Summits” pada 2017. Menurutnya, tantangan pendakian tidak hanya saat mencapai puncak, tetapi juga dalam perjalanan menuju basecamp.
“Ada dua cara menuju Basecamp Lembah Kuning, yaitu dengan trekking dan helikopter. Dulu, kami berjalan kaki menyusuri desa-desa di sekitar PT Freeport selama dua hari satu malam untuk sampai ke basecamp. Medannya sangat terjal dan berat,” ungkapnya.
Namun, sejak jalur pendakian Carstensz dibuka kembali, jalur trekking sudah tidak diperbolehkan karena alasan keamanan akibat konflik bersenjata di wilayah tersebut. “Sekarang, satu-satunya cara menuju basecamp adalah menggunakan helikopter. Ini menjadi tantangan pertama yang dihadapi pendaki sebelum memulai pendakian. Setelah itu, mereka harus melakukan aklimatisasi atau penyesuaian diri dengan ketinggian dan cuaca,” jelasnya.
Razaq menegaskan bahwa medan di Carstensz lebih sulit dibandingkan dengan puncak lain dalam Seven Summits. Pendaki tidak hanya dituntut memiliki fisik yang kuat, tetapi juga keterampilan teknis dalam panjat tebing.
“Carstensz berbeda dengan Gunung Elbrus di Rusia atau Kilimanjaro di Afrika yang lebih banyak jalur trekking. Di Carstensz, pendaki harus memiliki kemampuan *climbing* atau panjat tebing dengan teknik tali temali. Ini yang membuatnya lebih menantang dibandingkan puncak lainnya,” ujarnya.
Dalam insiden yang menyebabkan meninggalnya Lilie dan Elsa, menurut Razaq, cuaca ekstrem bukan satu-satunya faktor yang harus diwaspadai. Persiapan yang matang, baik dari segi fisik, teknik, maupun pengetahuan, sangat penting dalam menghadapi tantangan di Carstensz.
“Banyak faktor yang perlu diperhatikan, mulai dari perubahan cuaca yang ekstrem dalam hitungan menit hingga kondisi fisik pendaki yang harus benar-benar prima. Selain itu, skill dalam panjat tebing juga sangat diperlukan untuk bisa mencapai puncak dengan aman,” pungkasnya. [YSF]

