RELUNG.ID — Generasi millenial di Sumatra Selatan (Sumsel) sudah seharusnya mengenal berbagai sejarah daerah di Bumi Sriwijaya, termasuk sejarah Ogan Komering Ilir (OKI) yang memiliki kaitan sejarah dengan Ogan Ilir (OI).
Mengetahui sejarah berarti turut serta dalam mengingat jasa pahlawan dan wujud kecintaan diri terhadap negara. Berikut sejarah terkait dengan Kabupaten OKI, Sumsel.
Sejarah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)
Sejarah OKI dimulai dari era penjajahan Belanda. Kabupaten ini termasuk ke dalam wilayah Keresidenan di Sumsel, dan Sub Karesidenan di Palembang. Afdeling atau Sub Keresidenan ini kemudian dibagi menjadi beberapa bagian dan wilayah, seperti wilayah onder afdeling Komering Ilir serta onder afdeling Ogan Ilir. Pada era kemerdekaan, wilayah ini termasuk ke dalam Keresidenan Palembang yang telah mencakup 26 marga.
Pada masa Orde Baru, wilayah OKI kembali dipecah menjadi 12 kecamatan defensif serta enam kecamatan perwakilan. Dalam perjalanannya, wilayah ini dimekarkan menjadi dua kabupaten yaitu OKI dan OI. Setelah mengalami pemekaran, wilayah tersebut memiliki 12 kecamatan yang meliputi 272 desa dan 11 kelurahan.
Asal Usul Penamaan Ogan Ilir
Asal usul penamaan Ogan Ilir terjadi pasca reformasi. Jika sebelumnya Ogan Ilir berada dalam satu kesatuan wilayah dengan OKI, kemudian OI akhirnya memisahkan diri. Kedua wilayah memiliki hubungan erat sebelum masa kemerdekaan. Sebutan OI dikaitkan dengan keberadaan wilayah yang terletak di hilir Sungai Ogan, salah satu dari sembilan sungai besar di Sumsel.
Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, nama Ogan Ilir menjadi Zona Ekonomi Afdeling yang merupakan daerah perkebunan pada masa itu. Pada Januari 1939, wilayah ini resmi dibentuk dan dipimpin oleh A.V. Peggemier yang menjalankan tugasnya di Tanjung Raja.
Demografi dan Keragaman Budaya
Kabupaten OKI mempunyai banyak sekali suku bangsa, baik suku asli maupun suku yang dibawa oleh pendatang, seperti Suku Melayu, Bali, dan Komering. Selain itu, daerah ini juga memiliki berbagai bahasa yang beragam, mulai dari bahasa Bali, Bugis, Sunda, hingga bahasa Madura. Bahasa-bahasa ini digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari di berbagai desa.
Berdasarkan segi demografi, jumlah penduduk OKI mencapai 727.376 jiwa. Setiap tahunnya, kawasan ini mengalami pertumbuhan jumlah penduduk hingga 2,01 persen, dengan tingkat kepadatan sekitar 69 jiwa per kilometer persegi.
Warisan Budaya
Sejarah OKI juga dapat dilihat dari warisan budaya daerah yang dimilikinya. Daerah ini memiliki banyak sekali warisan yang ditinggalkan oleh nenek moyang, salah satunya adalah tradisi arak-arakan yang diiringi dengan alunan musik tradisional. Kegiatan tersebut dikenal dengan sebutan Midang, yang diadakan untuk menyambut kedatangan wisatawan lokal maupun mancanegara.
Demikian penjelasan singkat terkait sejarah Ogan Komering Ilir yang wajib untuk diketahui. Mengingat serta melestarikan sejarah yang ada sekarang ini menjadi salah satu bentuk dari menghargai perjuangan pendahulu. Setuju?[AYK]

