RELUNG.ID — Meta mengumumkan rencana ambisius untuk membangun lebih dari 50.000 kilometer kabel internet bawah laut yang menghubungkan lima benua. Proyek yang dijuluki “Project Waterworth” ini diklaim sebagai proyek kabel laut terpanjang di dunia.
“Proyek Waterworth akan menghadirkan konektivitas terbaik di industri ini ke Amerika Serikat, India, Brasil, Afrika Selatan, dan berbagai wilayah strategis lainnya,” ungkap Gaya Nagarajan, Wakil Presiden Rekayasa Jaringan Meta, melalui web Engineering Meta pada Jumat (14/2).
Investasi miliaran dolar ini bertujuan memperkuat jaringan digital global dengan membuka tiga koridor samudra baru yang menyediakan konektivitas berkecepatan tinggi, mendukung inovasi kecerdasan buatan (AI) secara luas.
Pengumuman proyek ini juga mendapat perhatian dalam Joint Leaders’ Statement Amerika Serikat-India yang diterbitkan oleh Gedung Putih. Dalam pernyataan tersebut, Meta dikabarkan akan memulai pemasangan kabel tahun ini sebagai bagian dari investasi jangka panjang untuk meningkatkan infrastruktur digital di wilayah Samudra Hindia.
“Para pemimpin menyambut baik investasi multi-miliar dolar Meta dalam proyek kabel bawah laut yang akan memperkuat konektivitas digital di kawasan Samudra Hindia dan sekitarnya,” bunyi pernyataan tersebut, dikutip dari TechCrunch.
Meta melihat India sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan infrastruktur digital tercepat di dunia. Melalui Project Waterworth, perusahaan ini berharap dapat mempercepat transformasi digital di India serta mendukung rencana negara tersebut menuju ekonomi digital yang lebih kuat.
Proyek ini akan menjadi kabel bawah laut terpanjang yang pernah ada, dengan 24 pasang serat optik yang membentang sejauh 50.000 kilometer—lebih panjang dibandingkan keliling Bumi yang sekitar 40.030 kilometer. Dengan panjang tersebut, Project Waterworth melampaui proyek kabel bawah laut 2Africa, yang sebelumnya memegang rekor dengan panjang 45.000 kilometer.
“Meta menunjukkan komitmen besar dalam meningkatkan konektivitas global,” ujar Paolo Pescatore, analis industri telekomunikasi dan teknologi.
Profesor Vili Lehdonvirta dari Oxford Internet Institute menambahkan bahwa proyek ini memperkuat posisi Meta dalam mengintegrasikan perangkat keras, perangkat lunak, dan platform digital guna memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna.
Proyek ini muncul di tengah upaya NATO dalam mengembangkan Hybrid Space/Submarine Architecture Ensuring of Telecommunications (HEIST), sebuah konsorsium senilai 2,5 juta dolar yang bertujuan membuat jaringan internet lebih tahan gangguan dengan mengalihkan informasi ke satelit jika kabel bawah laut mengalami kerusakan. Beberapa elemen dari proyek HEIST akan mulai diuji pada tahun ini.
Untuk memastikan ketahanan kabel bawah laut, Meta akan menempatkan kabel hingga kedalaman 7.000 meter dan menggunakan teknik khusus agar tidak mudah rusak akibat jangkar kapal atau gangguan lainnya.
Dengan proyek berskala besar ini, Meta semakin menegaskan perannya sebagai pemimpin dalam pengembangan infrastruktur digital global, sekaligus membuka babak baru dalam revolusi konektivitas dunia.[THQ]

