RELUNG.ID- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu (28/1/2026) setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan pembekuan sementara perlakuan indeks terhadap saham-saham Indonesia.
Hingga menjelang penutupan sesi pertama, IHSG tercatat anjlok 7,47 persen ke level 8.309.
Berdasarkan data RTI Infokom, tekanan jual terjadi secara merata di pasar. Sebanyak 763 saham tercatat melemah, hanya 26 saham yang menguat, dan 15 saham stagnan. Kondisi tersebut mencerminkan aksi jual besar-besaran yang dilakukan investor sejak awal perdagangan.
Corporate Secretary Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi menjelaskan bahwa penurunan IHSG berkaitan langsung dengan pengumuman MSCI yang dirilis pada pagi hari.
“Terkait pengumuman dari MSCI pagi ini, OJK, IDX, dan KSEI akan terus melakukan diskusi dengan MSCI,” ujar Kautsar dalam keterangan resmi, Rabu (28/1/2026).
Dalam pengumuman terbarunya, MSCI memutuskan menerapkan interim freeze atau pembekuan sementara terhadap perlakuan indeks saham Indonesia. Kebijakan ini diambil menyusul kekhawatiran MSCI terhadap isu free float dan aksesibilitas pasar saham Tanah Air.
MSCI menyatakan, pembekuan tersebut berlaku segera dan mencakup penghentian seluruh kenaikan bobot saham Indonesia, tidak adanya penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI, serta tidak ada kenaikan kelas saham di seluruh segmen indeks.
“Langkah ini diambil untuk membatasi risiko turnover indeks dan menjaga akses investability,” tulis MSCI dalam pernyataannya.
Sebagai informasi, MSCI merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan utama investor asing, manajer investasi, hingga dana pensiun dunia dalam menempatkan dana di pasar saham. Saham-saham yang masuk dalam indeks MSCI umumnya berkapitalisasi besar dan memiliki likuiditas tinggi.
Kebijakan MSCI tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi arus keluar modal asing (capital outflow), sehingga mendorong investor melakukan aksi jual dan menekan pergerakan IHSG secara signifikan.
Otoritas pasar modal Indonesia kini terus berkoordinasi dengan MSCI untuk membahas kebijakan tersebut dan meminimalkan dampaknya terhadap stabilitas pasar saham nasional.[YKP]

