RELUNG.ID– Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Naniek Sudaryati Deyang, mengungkapkan dirinya berpeluang mengemban tugas baru sebagai Ketua Dewan Pengawas BGN setelah mengundurkan diri dari jabatannya karena alasan kesehatan.
Naniek memutuskan mundur dari kursi Kepala BGN untuk fokus menjalani pengobatan penyakit jantung di luar negeri. Keputusan tersebut telah disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dan mendapat persetujuan.
“Dengan berat hati akhirnya saya pamit Bapak Presiden untuk melakukan pengobatan di luar negeri untuk jantung saya. Rencananya hari ini, Rabu (22/7), saya berangkat,” tulis Naniek melalui akun media sosial pribadinya.
Ia menjelaskan, pengobatan ke luar negeri dipilih bukan karena meragukan kemampuan dokter di Indonesia, melainkan untuk mendapatkan second opinion demi memastikan penanganan terbaik atas penyakit jantung yang dideritanya.
Naniek mengatakan, kondisi kesehatannya membuat dirinya merasa tidak dapat lagi menjalankan tugas sebagai Kepala BGN secara maksimal.
“Saya sampaikan ke Presiden juga dengan beribu maaf sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN demi kesehatan saya,” ujarnya.
Menurut Naniek, Presiden Prabowo memahami kondisinya dan menerima pengunduran diri tersebut. Meski demikian, Presiden tetap menginginkan dirinya berkontribusi dalam mengawal pelaksanaan program-program BGN.
Bahkan, Naniek mengungkapkan pemerintah tengah mempertimbangkan pembentukan Dewan Pengawas BGN. Jika lembaga tersebut terbentuk, ia diminta mengisi posisi Ketua Dewan Pengawas.
“Kemungkinan Presiden akan membentuk Dewan Pengawas di mana saya disuruh menjadi Ketua Dewan Pengawasnya. Kalau mencereweti kayaknya masih bisa, yang penting tidak berhubungan dengan pegang uang, sumpah trauma akut,” katanya sambil berseloroh.
Menurutnya, posisi tersebut lebih sesuai dengan kondisi kesehatannya karena tidak lagi terlibat dalam pengelolaan anggaran maupun operasional harian lembaga.
Di sela pengumuman pengunduran dirinya, Naniek juga menepis anggapan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki muatan politik menjelang Pemilu 2029.
Ia menegaskan, program tersebut merupakan intervensi pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak, bukan instrumen politik.
“Kalau untuk tujuan politis, yang sekarang mayoritas penerima manfaat kan anak-anak balita sampai SD. Tiga tahun lagi tahun 2029 mereka belum nyoblos. Jadi kalau ada yang bilang 82 juta penerima manfaat itu untuk Pemilu 2029, mohon diluruskan pemikiran itu,” tegasnya.
Naniek juga memastikan tetap mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis meski tidak lagi menjabat sebagai Kepala BGN. Menurutnya, program tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia menuju generasi emas.[YKP]

