RELUNG.ID — Musi Rawas Utara (Muratara) menjadi daerah dengan angka kemiskinan tertinggi di Sumatra Selatan (Sumsel), menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Dengan jumlah warga miskin mencapai 3,01 persen dari total penduduk berpenghasilan rendah sebanyak 984 ribu orang, Muratara menyumbang jumlah terbesar warga miskin di provinsi tersebut.
Penjabat Gubernur Sumsel, Elen Setiadi, mengakui bahwa meskipun jumlah warga miskin di Sumsel secara signifikan menurun, Muratara tetap menjadi wilayah dengan jumlah warga miskin terbanyak.
Penyebab utamanya adalah posisi geografis Muratara yang tidak strategis untuk pengembangan infrastruktur, sehingga menghambat akses ekonomi daerah.
“Pembangunan belum merata ini alamiah, posisi geografi daerah berbeda-beda dan alur akses transportasi tidak strategi di Muratara tidak masuk lintas perekonomian tengah dan timur,” ujar Elen Setiadi pada Selasa (6/8/2024).
Pemerintah Provinsi Sumsel berupaya menekan angka kemiskinan di Muratara dengan meratakan tingkat penghidupan masyarakat di wilayah tersebut melalui program percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem.
“Kita kerjasama kroyok mencari solusi agar Muratara bisa turun (angka kemiskinan) dengan menyoroti tingkat penghidupan warga di sana,” tambahnya.
Secara nasional, Sumsel berada pada peringkat keenam tertinggi dalam tingkat kemiskinan di Indonesia. Tingkat kemiskinan daerah ini diukur berdasarkan beberapa kategori, termasuk garis kemiskinan makanan (GKM). Pada Juli 2024, Sumsel mencatat nilai GKM terbesar sebesar 74,57 persen, yang dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas beras dan peningkatan daya beli rokok.
Program percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem di Sumsel difokuskan pada penurunan beban pengeluaran melalui jaminan sosial dan peningkatan ketersediaan bahan pangan. Langkah sederhana yang diambil pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas harga komoditas untuk menjaga daya beli masyarakat dan tren konsumsi, terutama kelompok makanan.
Selain itu, peningkatan pendapatan, pengembangan potensi daerah, akses modal, informasi pasar, serta peningkatan akses sanitasi layak, rumah layak huni, dan air minum layak juga diupayakan untuk mengurangi kantong kemiskinan.
“Saya yakin dari program yang dilakukan, koordinasi dengan seluruh elemen bisa mendorong percepatan kemiskinan ini,” pungkas Elen Setiadi.[AYK]

