RELUNG.ID – Museum Perjuangan Subkoss Garuda Sriwijaya di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, menambah koleksi baru berupa peti kayu yang diyakini sebagai tempat penyimpanan granat pada masa perjuangan melawan penjajah. Penambahan koleksi ini disampaikan oleh Pemandu Museum, Berlian, Senin (13/1/2025).
Peti kayu tersebut memiliki dimensi tinggi sekitar 30 cm dan panjang 70 cm. Menurut Berlian, sejarah lengkap peti ini masih dalam proses penelusuran karena informasi yang diperoleh sejauh ini hanya berupa cerita lisan.
“Sejarahnya masih kami lacak dan pelajari sebab agak sulit, cuma tahu ceritanya saja dari mulut ke mulut, jadi belum lengkap,” ujar Berlian.
Peti itu diserahkan ke museum pada November 2024 oleh seorang warga Batu Urip yang mengaku peti tersebut adalah peninggalan orang tuanya, Abdul Muis, seorang pejuang kemerdekaan. Berdasarkan cerita keluarga, peti ini digunakan untuk menyimpan granat yang dipakai dalam pertempuran di Jembatan Kelingi melawan Belanda.
“Menurut keluarganya, Abdul Muis adalah seorang pejuang, dan makamnya berada di Taman Makam Pahlawan Bukit Sulap,” tambah Berlian.
Meski demikian, museum belum dapat memastikan jenis kayu dan usia peti tersebut. Namun, pada bagian dasar peti terdapat motif bunga, yang menjadi ciri khasnya.
Selain peti ini, pihak keluarga Abdul Muis menyampaikan masih ada barang peninggalan lain yang akan diserahkan ke museum. Barang tersebut saat ini masih berada di dusun di daerah Rupit.
Proses penyerahan peti ini berawal dari komunikasi antara pemiliknya dan salah satu pegawai museum. Pemiliknya sempat menggunakan peti tersebut untuk menyimpan pisang sebelum akhirnya diserahkan ke museum.
“Peti ini sebelumnya sempat tidak terawat, bahkan penguncinya sudah rusak,” jelas Berlian.
Hingga kini, Museum Subkoss Garuda Sriwijaya telah mengumpulkan 140 koleksi barang bersejarah, termasuk senjata, arsip foto, meriam, badik, tombak, dan senapan. (ansyorI)

