RELUNG.ID — Memasuki awal tahun 2026, ancaman demam berdarah dengue (DBD) kembali menjadi perhatian serius di Sumatera Selatan. Dinas Kesehatan Sumsel memprediksi lonjakan kasus akan mencapai titik tertinggi pada Januari hingga Februari, seiring masih berlangsungnya puncak musim hujan.
Kondisi cuaca basah dinilai menciptakan lingkungan ideal bagi nyamuk aedes aegypti untuk berkembang biak. Genangan air di sekitar permukiman menjadi faktor utama meningkatnya risiko penularan penyakit yang setiap tahun mengintai masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogatiyah, mengatakan tren tahunan menunjukkan pola yang konsisten, di mana kasus DBD cenderung melonjak saat curah hujan berada di level tertinggi.
“Peningkatan tempat perindukan nyamuk sudah mulai sejak November. Desember biasanya menjadi fase penularan tinggi, dan Januari–Februari adalah periode yang paling rawan,” ujarnya, Kamis (19/1/2026).
Menghadapi potensi lonjakan tersebut, Dinkes Sumsel tidak hanya mengandalkan langkah konvensional. Salah satu strategi yang diperkuat adalah pemanfaatan bakteri wolbachia sebagai metode pengendalian biologis nyamuk penular DBD.
Wolbachia bekerja dengan menghambat kemampuan nyamuk membawa dan menularkan virus dengue kepada manusia. Selain aman bagi lingkungan, teknologi ini dinilai efektif sebagai solusi jangka panjang.
“Palembang menjadi salah satu daerah percontohan dalam perluasan program wolbachia dari total 25 kabupaten/kota di Sumsel,” jelas Ira.
Meski inovasi terus dikembangkan, Dinkes Sumsel menekankan bahwa keterlibatan masyarakat tetap menjadi faktor penentu. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin, seperti menguras, menutup, dan mendaur ulang wadah air, dinilai masih menjadi langkah paling efektif di tingkat rumah tangga.
Warga juga diimbau tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala awal DBD, seperti demam tinggi mendadak, nyeri sendi dan otot, sakit kepala, hingga muncul bintik merah pada kulit.
“Deteksi dan penanganan dini sangat menentukan keselamatan pasien,” katanya.[THQ]

