RELUNG.ID – Empat pemuda asal Kota Pagar Alam harus menerima sanksi tegas berupa blacklist dari seluruh aktivitas pendakian Gunung Dempo selama satu tahun. Sanksi ini dijatuhkan Balai Registrasi Gunung Merapi Dempo (Brigade) setelah keempatnya diketahui melanggar aturan dengan turun ke kawasan kawah Gunung Dempo yang berstatus waspada (Level II).
Keempat pendaki tersebut masing-masing berinisial AH (18), EKF (18), DSR (18), dan IR (18), seluruhnya berdomisili di Dusun Muara Tenang, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagar Alam.
Ketua Brigade, Angga, menjelaskan bahwa kejadian pelanggaran ini terjadi pada Minggu (13/7/2025). Keempatnya diketahui turun ke kawasan kawah yang jelas-jelas dilarang, terutama karena kondisi gunung saat itu berada dalam status waspada.
“Blacklist berlaku selama satu tahun, terhitung mulai 14 Juli 2025. Ini bukan semata-mata hukuman, tapi juga sebagai pembelajaran bagi seluruh pendaki bahwa mendaki gunung bukan hanya soal keberanian, tapi juga soal tanggung jawab dan penghormatan terhadap alam,” tegas Angga, Senin (21/7/2025).
Pelanggaran tersebut terungkap usai mereka mengunggah aktivitas berbahaya itu ke media sosial, bahkan menyematkan (tag) akun resmi Brigade. Video dan foto yang menampilkan aksi mereka duduk di bibir kawah dengan santai langsung menuai perhatian petugas.
Setelah dipanggil untuk klarifikasi, keempatnya mengaku bersalah dan menerima sanksi dengan lapang dada. Mereka berdalih bahwa sebagai warga lokal, mereka merasa memiliki kedekatan emosional dengan Gunung Dempo sehingga nekat melanggar aturan.
Namun menurut Angga, larangan turun ke kawah telah tertuang jelas dalam aturan resmi pendakian yang dipasang di jalur dan pos-pos sebelum pendaki memulai perjalanan. Kawasan kawah sangat berbahaya karena aktivitas vulkanik bisa meningkat tanpa peringatan.
“Duduk di bibir kawah saja sudah dilarang, apalagi turun ke dalam. Keputusan blacklist ini bukan hanya tindakan administratif, tapi bentuk edukasi agar pendaki lain tidak meniru aksi nekat yang membahayakan jiwa,” jelasnya.
Angga juga menegaskan bahwa setiap pendaki harus menjadikan peristiwa ini sebagai pengingat pentingnya kedisiplinan dan tanggung jawab selama berada di kawasan konservasi.
“Gunung bukan arena bermain bebas. Ada aturan dan batasan demi keselamatan semua. Hormati alam jika ingin tetap bisa menikmati keindahannya,” pungkasnya.[THQ]

