RELUNG.ID — Kepemimpinan Kim Jong Un di Korea Utara kembali diperpanjang setelah ia terpilih lagi sebagai Presiden Urusan Negara dengan dukungan hampir mutlak, mencapai 99,9 persen suara.
Penetapan tersebut diumumkan oleh kantor berita resmi Korean Central News Agency usai sidang pertama Majelis Rakyat Tertinggi untuk masa jabatan ke-15 yang digelar pada 22 Maret 2026. Dalam struktur pemerintahan Korut, posisi ini merupakan jabatan tertinggi yang mengendalikan arah kebijakan negara.
Hasil pemilihan yang nyaris tanpa oposisi kembali menegaskan pola politik tertutup yang telah lama berlangsung di negara tersebut. Para analis menilai, proses pemilihan lebih bersifat formalitas untuk memperkuat legitimasi kekuasaan, bukan kompetisi politik terbuka.
“Ini adalah proses yang sangat terencana dengan hasil yang sudah bisa diprediksi,” ujar analis dari Institut Analisis Pertahanan Korea, menyoroti minimnya alternatif kandidat dalam sistem politik Korut.
Seperti diketahui, Kim Jong Un merupakan generasi ketiga dinasti politik yang didirikan oleh kakeknya, Kim Il Sung pada 1948, dan dilanjutkan oleh ayahnya, Kim Jong Il. Ia sendiri mulai berkuasa sejak 2011.
Dalam sidang tersebut, sebanyak 687 deputi parlemen disahkan, dengan tingkat partisipasi pemilih dilaporkan mencapai 99,99 persen. Warga hanya diberikan pilihan untuk menyetujui atau menolak kandidat tunggal yang diajukan oleh partai berkuasa.
Di balik hasil pemilihan, perhatian dunia kini tertuju pada arah kebijakan baru yang mungkin diambil Korut, terutama terkait hubungan dengan Korea Selatan.
Sejumlah analis memperkirakan, sidang parlemen kali ini juga dapat menjadi momentum perubahan konstitusi, termasuk kemungkinan mempertegas posisi kedua Korea sebagai negara yang saling bermusuhan.
Bahasa politik yang digunakan Kim Jong Un dalam pidatonya dinilai akan menjadi sinyal penting. Pergeseran dari narasi “unifikasi” menuju istilah yang lebih agresif dinilai dapat mencerminkan arah baru kebijakan luar negeri Pyongyang.
Dengan hasil pemilihan ini, Kim Jong Un semakin mengukuhkan dominasinya dalam lanskap politik Korea Utara, sekaligus mempertahankan model kepemimpinan yang telah berlangsung lintas generasi.[THQ]

