RELUNG.ID – Banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Palembang pada Selasa (21/4/2026) mendapat perhatian serius dari Wali Kota Palembang, Ratu Dewa.
Ia menilai, selain dipicu curah hujan tinggi, kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan turut memperparah kondisi genangan.
Menurut Dewa, berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), intensitas hujan di Palembang tergolong tinggi dalam beberapa hari terakhir. Namun, faktor manusia dinilai menjadi penyebab utama tersumbatnya saluran air.
“Drainase yang tersumbat sampah membuat aliran air terhambat, sehingga genangan tidak bisa cepat surut,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Selain persoalan sampah, ia juga menyoroti pembangunan yang tidak sesuai tata ruang, seperti pendirian bangunan di atas saluran air dan bantaran sungai, yang mempersempit jalur aliran air.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemerintah Kota Palembang menyiapkan langkah penanganan jangka pendek hingga panjang. Dalam waktu dekat, pembersihan saluran air akan digencarkan, termasuk pengangkatan lumpur dan penambahan pompa portable di titik rawan banjir.
Di sisi lain, pemerintah juga tengah menyiapkan pembentukan satuan tugas (satgas) di tingkat kecamatan yang melibatkan aparatur sipil negara, tokoh masyarakat, hingga tokoh agama. Satgas ini akan bertugas memantau kondisi wilayah dan turun langsung saat terjadi banjir.
“Mereka akan bergerak cepat di lapangan, termasuk membantu mengurai kemacetan dan proses evakuasi,” kata Dewa. Ia menambahkan, satgas tersebut akan mendapat pelatihan dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan terkait evakuasi dan penanganan darurat.
Untuk jangka menengah dan panjang, Pemkot Palembang menganggarkan perluasan kolam retensi serta pemetaan ruang terbuka hijau (RTH) guna meningkatkan daya serap air.
Salah satu proyek prioritas tahun 2026 adalah penanganan banjir di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bendung. Proyek ini mencakup pendalaman dan pelebaran kolam retensi Simpang Polda dengan nilai anggaran sekitar Rp125 miliar.
Dewa menjelaskan, proyek tersebut diharapkan mampu mengatasi banjir di tiga kecamatan, yakni Ilir Timur I, Kemuning, dan Ilir Timur III. Sistem ini akan terintegrasi dengan pompanisasi di Sekip Bendung sehingga seluruh pompa dapat berfungsi optimal.
“Selama ini dari lima pompa yang ada, hanya dua yang bekerja maksimal. Dengan proyek ini, kita harapkan semuanya bisa beroperasi penuh,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga akan memperlebar dan memperdalam drainase sebagai bagian dari dukungan program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Meski berbagai upaya telah disiapkan, Dewa menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, provinsi, pusat, hingga masyarakat.
“Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan menjadi kunci penting. Kalau ini tidak berubah, banjir akan terus berulang,” tutupnya. (DSK)

