RELUNG.ID- Suhu udara di Palembang dan sejumlah wilayah Sumatera Selatan diprakirakan mencapai 35–37 derajat Celsius pada akhir Oktober 2026. Puncak suhu maksimum ini perlu diwaspadai karena musim kemarau masih berlangsung dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum mereda.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengingatkan kondisi cuaca panas dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran, terutama ketika kelembapan tanah rendah dan vegetasi mulai mengering.
“Peningkatan suhu tersebut berkaitan dengan gerak semu tahunan Matahari yang telah melintasi ekuator menuju Belahan Bumi Selatan (BBS),”kata Wandayan dalam rilis resmi yang dikeluarkan, Senin (12/10/2026).
Meski posisi Matahari terus bergeser ke selatan, puncak suhu udara tidak langsung terjadi pada saat yang sama. Permukaan bumi membutuhkan waktu untuk merespons energi Matahari yang diterima. Jeda waktu ini dikenal sebagai thermal lag.
Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.
“Kombinasi suhu tinggi, tanah kering, dan vegetasi yang mudah terbakar dapat meningkatkan risiko kebakaran,”ujarnya.
Jika terjadi penyulutan api, kebakaran berpotensi lebih mudah berkembang dan memperburuk kondisi kabut asap yang masih menjadi perhatian masyarakat Sumatera Selatan.
Wandayantolis mengimbau masyarakat tidak membakar lahan, kebun, maupun sampah. Warga juga diminta menghindari penggunaan sumber api di area kering dan segera melaporkan kejadian kebakaran kepada pihak berwenang.
“Selain mewaspadai karhutla, masyarakat perlu menjaga kesehatan selama cuaca panas dengan mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan dan mencukupi kebutuhan air minum,”jelasnya.[YKP]

