RELUNG.ID – Gelombang panas yang melanda Sumatera Selatan dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak pada sektor pangan. Salah satu yang paling terasa adalah melonjaknya harga cabai merah keriting lokal yang akhirnya menjadi penyumbang utama inflasi daerah pada Mei 2026.
Kondisi cuaca panas berkepanjangan membuat proses budidaya hortikultura terganggu. Produksi cabai menurun, masa panen menjadi tidak menentu, sementara pasokan ke pasar ikut berkurang. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan tersebut memicu kenaikan harga yang cukup signifikan di tingkat konsumen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan, Moh. Wahyu Yulianto, mengatakan komoditas cabai menjadi salah satu faktor dominan yang mendorong inflasi bulanan pada Mei 2026.
“Akibat cuaca panas ekstrem, komoditas lokal terutama hortikultura seperti cabai mengalami hambatan produksi dan panen tidak menentu. Dampaknya pasokan berkurang dan harga meningkat di pasaran,” ujar Wahyu, Minggu (7/6/2026).
BPS mencatat inflasi Sumsel pada Mei 2026 mencapai 0,61 persen secara bulanan, berbalik dari kondisi April 2026 yang mengalami deflasi sebesar 0,04 persen. Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil inflasi mencapai 0,44 persen.
“Tekanan inflasi tidak hanya berasal dari komoditas cabai. Kenaikan harga emas perhiasan serta dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) sejak April 2026 juga turut memberi kontribusi terhadap peningkatan inflasi daerah, ” kata dia.
Di sisi lain, cuaca panas ekstrem yang terjadi di Palembang dan sejumlah wilayah Sumsel diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel menjelaskan kondisi tersebut dipicu minimnya pembentukan awan yang biasanya berfungsi mengurangi paparan radiasi matahari langsung ke permukaan bumi.
Kepala BMKG Sumsel, Wandayantolis, mengatakan Palembang saat ini tengah berada pada masa peralihan musim atau pancaroba yang ditandai dengan suhu udara lebih panas dibandingkan kondisi normal.
“Minimnya pembentukan awan membuat radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi sehingga suhu terasa lebih panas. Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung selama musim kemarau,” jelasnya.
Jika kondisi cuaca ekstrem terus terjadi, bukan hanya cabai yang berpotensi mengalami gangguan produksi. Sejumlah komoditas hortikultura lainnya juga terancam mengalami penurunan hasil panen yang dapat memicu kenaikan harga pangan di tingkat konsumen.
“Karena itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan dapat melakukan langkah antisipasi guna menjaga pasokan pangan dan mengendalikan inflasi agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah musim kemarau yang diprediksi berlangsung panjang tahun ini, “kata dia.[THQ]

