RELUNG.ID – Jemaah haji dari seluruh dunia termasuk Indonesia tengah melaksanakan prosesi wukuf di Arafah.
Waktu wukuf dimulai setelah tergelincirnya matahari waktu Zhuhur pada 9 Dzulhijjah.
Untuk jemaah haji yang sakit dilakukan safari wukuf.
Baca Juga: Ini 5 Penyakit Banyak Diderita Penduduk Indonesia
Kepala Seksi Kesehatan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Makkah, dr Andi Ardjuna mengatakan, pihaknya telah melakukan proses screening jemaah yang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).
Jemaah yang memenuhi kriteria, disafariwukufkan. Sementara jemaah yang tidak memenuhi kriteria safari wukuf, dibadalhajikan.
“Dari proses screening itu, kita mendapatkan 238 jemaah yang hari ini disafariwukufkan. Mereka terdiri atas 48 jemaah sebagai pasien baring, dan 190 jemaah sebagai pasien duduk,” kata Ardjuna, Selasa (27/6)
Baca Juga: Malas Gosok Gigi! Ini 5 Dampaknya yang Kalian Dapatkan
Dia menjelaskan, sejumlah kriteria jemaah sakit yang bisa disafariwukufkan. Pertama, transportable. Jemaah bisa dibawa dengan sarana transportasi bus menuju Arafah tanpa ada kendala.
Kedua, hemodinamic dengan tensi dan tekanan darah darah jemaah yang stabil, dalam kondisi yang memungkinkan untuk disafariwukufkan.
“Ketiga, tidak terjadi inspeksi akut,” sebutnya.
Baca Juga: Jadi Manusia Super di Drakor ‘Moving’, Go Yoon Jung Rela Hadiri Sekolah Jasmani
Jemaah safari wukuf ini diberangkatkan dari KKHI Daker Makkah. Mereka diberangkatkan dengan 15 bus, terdiri atas 6 bus baring dan 9 bus duduk.
Untuk bus duduk, rata-rata diisi 25 jemaah. Sementara untuk bus baring, diisi delapan jemaah.
“Setiap bus ada petugas pendamping, terdiri atas satu dokter, dua perawat, satu petugas membantu menyuapi makan jemaah, serta tim pembimbing ibadah,” tutupnya.

