RELUNG.ID – Kebijakan Amerika Serikat (AS) yang memberlakukan kenaikan tarif impor sebesar 32 persen terhadap barang-barang dari Indonesia diprediksi membawa dampak luas bagi perekonomian nasional.
Namun di balik tantangan yang muncul, sejumlah pihak menilai kondisi ini justru bisa menjadi peluang besar bagi industri dalam negeri, termasuk di Sumatera Selatan (Sumsel).
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumsel, Affandi Udji, mengatakan bahwa kebijakan tersebut perlu dicermati secara menyeluruh. Menurutnya, selain membawa dampak negatif, kenaikan tarif impor dari AS ini juga membuka ruang tumbuh bagi pelaku industri lokal.
“Ini bisa menjadi momen kebangkitan bagi industri dalam negeri, termasuk Sumsel. Harga barang impor yang naik akan membuat konsumen dan pelaku usaha lebih melirik produk lokal,” ujar Affandi, Sabtu (5/4).
Ia menjelaskan, salah satu dampak positif yang paling nyata adalah meningkatnya gairah produksi lokal. Kenaikan harga barang impor dari AS akan membuat produk dalam negeri menjadi lebih kompetitif di pasar. Kondisi ini diharapkan mampu mendongkrak permintaan terhadap barang-barang buatan lokal, yang selama ini kalah saing dari produk impor.
“Bagi pengusaha Sumsel, ini adalah peluang untuk memperluas pasar dan meningkatkan kualitas produksi. Kalau bisa memanfaatkan momentum ini, industri kita bisa tumbuh lebih cepat,” jelasnya.
Selain peningkatan permintaan terhadap produk lokal, Affandi juga menyoroti potensi percepatan hilirisasi dan industrialisasi. Terbatasnya akses terhadap barang-barang impor dinilai dapat mendorong pengembangan industri pengolahan di dalam negeri.
“Kita jadi terdorong untuk lebih mandiri. Ini sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam memperkuat sektor hilir dan mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri,” imbuhnya.
Tak hanya itu, kondisi ini juga bisa membuka jalan bagi diversifikasi pasar. Dengan tingginya tarif impor dari AS, pelaku usaha di Sumsel dapat mulai menjajaki peluang perdagangan ke negara-negara lain yang menerapkan kebijakan dagang lebih bersahabat.
“Ini saat yang tepat untuk memperluas pasar ekspor. Jangan terlalu bergantung pada satu negara. Justru kita harus menjadikan ini sebagai momentum untuk masuk ke pasar-pasar baru,” ucapnya.
Kendati demikian, Affandi tak menampik adanya tantangan yang harus dihadapi. Kenaikan tarif impor AS tetap berisiko menekan perekonomian, terutama bagi sektor industri yang selama ini bergantung pada bahan baku atau produk dari AS. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam menyusun strategi adaptif.
“Pemerintah harus cepat tanggap. Industri lokal perlu dukungan dari sisi regulasi, pembiayaan, hingga insentif agar mampu menangkap peluang yang ada,” tegasnya.
Affandi menambahkan, dunia usaha Sumsel siap beradaptasi dan mengambil bagian dalam mendorong kemandirian ekonomi nasional.
“Momentum ini benar-benar dimanfaatkan untuk membangun ketahanan industri lokal yang kuat dan berdaya saing tinggi,” pungkasnya. (DSK)

