Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Bisnis»Pemerintah Bantah Indonesia Menuju Krisis 1998, Ini Tiga Alasan Ekonomi Dinilai Masih Kuat
Bisnis

Pemerintah Bantah Indonesia Menuju Krisis 1998, Ini Tiga Alasan Ekonomi Dinilai Masih Kuat

Eko Prasetyo JayawisudaBy Eko Prasetyo Jayawisuda25/05/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Ilustrasi Ekonomi
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Isu yang menyebut perekonomian Indonesia sedang menuju krisis seperti tahun 1998 kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Namun pemerintah menegaskan kondisi ekonomi nasional saat ini masih jauh dari situasi krisis yang pernah mengguncang Indonesia hampir tiga dekade lalu.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan indikator utama ekonomi nasional masih berada dalam kondisi aman dan terkendali. Menurutnya, narasi krisis yang berkembang tidak sesuai dengan data ekonomi terkini.

“Kalau melihat angka-angka yang ada sekarang, situasinya jauh dari kondisi krisis seperti 1997-1998,” ujar Juda dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Juda memaparkan hingga April 2026 pendapatan negara tercatat mencapai Rp918 triliun dengan defisit anggaran masih berada di level 0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut dinilai menunjukkan kondisi fiskal Indonesia masih sehat.

Dalam penjelasannya, Juda menguraikan tiga sumber utama yang biasanya menjadi pemicu krisis ekonomi di berbagai negara. Pertama yakni krisis akibat defisit fiskal yang tidak terkendali seperti yang pernah terjadi di Amerika Latin pada era 1980-an.

Namun menurutnya, kondisi Indonesia berbeda karena pemerintah masih mampu menjaga defisit di bawah batas aman 3 persen serta mempertahankan kepercayaan investor terhadap pembiayaan negara.

“Pembiayaan fiskal kita masih sangat dipercaya investor domestik maupun asing,” katanya.

Faktor kedua yang sering memicu krisis adalah tekanan neraca pembayaran seperti yang terjadi saat krisis moneter 1997-1998. Kala itu, banyak perusahaan menarik pinjaman luar negeri secara besar-besaran hingga membuat nilai tukar rupiah terpuruk.

Meski rupiah saat ini mengalami tekanan, Juda memastikan kondisi eksternal Indonesia masih relatif stabil dan tidak menunjukkan gejala krisis neraca pembayaran.

“Kalau melihat data sekarang, neraca pembayaran kita relatif sehat dan seimbang,” jelasnya.

Sementara faktor ketiga ialah krisis sektor keuangan akibat ledakan utang dan runtuhnya sistem perbankan. Juda menilai situasi tersebut juga belum terlihat di Indonesia saat ini.

“Tanda-tanda kolaps di sistem keuangan tidak ada. Jadi tiga sumber utama krisis itu tidak muncul dalam data yang kami amati,” tegasnya.

Pernyataan senada juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Ia menilai depresiasi rupiah yang terjadi saat ini masih dalam batas wajar jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Airlangga mencatat pada periode 2004-2014 nilai tukar rupiah mengalami depresiasi hingga 40 persen. Sedangkan pada periode 2014-2024 pelemahan rupiah berada di kisaran 30,6 persen.

“Inflasi kita masih terjaga di 2,4 persen dan depresiasi rupiah sekitar 5 persen. Jadi konteks ekonomi saat ini berbeda dengan masa lalu,” ujarnya.

Selain itu, kondisi perbankan dan korporasi nasional juga dinilai jauh lebih kuat dibanding era krisis 1998. Reformasi sektor keuangan dan pengawasan perbankan disebut menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.[THQ]

 

Bank Indonesia Ekonomi Indonesia Krisis 98
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleKabar Duka dari Tanah Suci, Satu Jemaah Haji asal Palembang Wafat
Next Article Meluncur Awal Juni, Huawei Ungkap Desain Desain Seri Nova 16
Eko Prasetyo Jayawisuda

Related Posts

Bisnis

Naik Rp15 Ribu, Ini Daftar Terbaru Harga Emas Antam

30/09/20266 Views
Bisnis

Spesial HUT ke-81 KAI, Pelanggan Cukup Bayar 81 Persen untuk Naik KA Sindang Marga

27/09/202612 Views
Bisnis

Turis Asing Belanja Pakai QRIS Capai Rp6,2 Triliun, 96,7 Persen Merchant UMKM

27/09/20265 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,867 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,742 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,715 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?