RELUNG.ID– Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengingatkan para peternak agar tidak menjual sapi betina produktif untuk dipotong, di tengah tren kenaikan harga daging yang menggoda keuntungan sesaat. Langkah tersebut disebut sebagai ancaman serius terhadap masa depan populasi sapi nasional.
Pejabat Otoritas Veteriner Sumsel, Jafrizal, menegaskan bahwa penyembelihan indukan betina yang masih produktif melanggar Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
“Ancaman pidananya jelas, bisa 1 hingga 3 tahun penjara dan denda mencapai Rp300 juta,” tegasnya, Selasa (21/10/2025).
Menurutnya, tindakan menjual sapi betina produktif untuk disembelih sering dilakukan karena alasan ekonomi jangka pendek. Harga indukan betina yang lebih murah dibanding sapi potong kerap membuat peternak tergoda, tanpa menyadari efek domino terhadap rantai pasok daging nasional.
“Seekor sapi betina produktif bisa melahirkan satu anak setiap tahun. Artinya, satu indukan menyimpan masa depan lima hingga enam ekor sapi dalam lima tahun,” jelas Jafrizal.
“Jika seribu betina disembelih, maka hilanglah peluang lahirnya ribuan anak sapi di masa depan.”tambah dia.
Ia menilai fenomena ini bukan semata pelanggaran hukum, tetapi cerminan lemahnya tata kelola peternakan di tingkat hulu. Peternak sering kali berada dalam posisi sulit karena biaya pakan tinggi, lahan penggembalaan terbatas, dan minim dukungan pembibitan.
“Jadi sebenarnya mereka bukan pelaku utama, melainkan korban dari sistem yang belum berpihak,” ujar Jafrizal.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah perlu memperkuat strategi dari hulu hingga hilir, seperti membuka lahan penggembalaan umum agar peternak bisa menekan biaya pakan dan memanfaatkan kawin alami. Selain itu, **balai pembibitan ternak unggul harus dioptimalkan untuk menghasilkan bibit sapi lokal berkualitas melalui inseminasi buatan dan seleksi genetik.
“Kuncinya bukan di pasar, tapi di kandang. Kalau indukan terjaga, maka daging akan tersedia dan harga bisa stabil,” jelasnya.
Jafrizal juga mendorong pemberian insentif bagi peternak pembibit agar mereka tetap fokus pada pengembangan populasi ternak jangka panjang.
Menurutnya, menjaga sapi betina produktif bukan hanya urusan peternak, melainkan strategi nasional menuju swasembada daging.
“Kalau kita ingin harga daging stabil tanpa impor, maka jawabannya sederhana yakni jaga induknya. Masa depan daging Indonesia ditentukan oleh keberanian kita mempertahankan satu ekor betina agar tetap hidup dan beranak,” tegasnya.[THQ]

